 |
Ibu dari 3 lelaki manja. Suka dengan burung hantu karena lucu walaupun suaranya nggak merdu.
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
Thursday, June 07, 2012
Terinspirasi oleh
kontes Tree of The Year 2012 yang diadakan oleh komunitas Greenweb Indonesia,
akhirnya jadi pingin cerita tentang pohon semasa kecil deh.
http://s1259.photobucket.com/albums/ii559/jshannaz/
Entah berapa umur
pastinya, tapi pohon ini telah ada sejak pindah ke rumah itu 41 tahun lalu.
Sebenarnya nggak ada yang istimewa dari pohon jambu air, tapi sebatang pohon
buah di pemukiman padat penduduk di Jakarta benar-benar suatu kemewahan.
Setiap mengunjungi
orang tua, pohon jambu air yang kini banyak ditumbuhi benalu adalah yang
pertama terlihat, dan kenangan masa kecil pun kembali menyeruak. Betapa tidak,
pohon itu memenuhi segala imajinasi terliar seorang anak. Di cabang terbawah
yang mudah dijangkau, kami (saya, adik dan teman-teman) biasa bergelantungan
dengan kaki di atas. Saat berbuah, kami akan memanjat pohon itu sambil membawa
ember kecil berisi air, pisau, dan garam...... menikmati rasa manis asam jambu air langsung di
atas pohon..... Pun saat tidak berbuah ada saja yang kami lakukan di atas sana,
sekedar berbincang, membaca, bermain kartu atau congklak, sampai menjadi
”detektif” dengan mengamati kegiatan para tetangga..... Teman-teman sekolah pun
menjadikan rumah kami sebagai tempat favorit untuk belajar bersama, apalagi
saat pohon itu berbuah.
Saat itu, imajinasi
tertinggi kami adalah merokok!!! Dan si
pohon jambu sungguh telah memberi pelajaran sangat berharga bagi kami. Rokok buatan
sendiri dari benang sari bunga jambu yang sudah kering, telah sukses membuat
kami terbatuk-batuk hebat sampai mengeluarkan air mata. Sejak saat itu saya
tidak lagi ingin merokok.
Beberapa tahun
lalu, pohon jambu mulai mogok berbuah, sehingga bapak memutuskan untuk
menebangnya, selain karena batangnya yang sudah retak di beberapa tempat dikhawatirkan
akan tumbang menimpa rumah. Namun ibu tetap ingin mempertahankan pohon itu,
katanya nanti banyak anak-anak yang kecewa. Seperti mengerti keinginan empunya
rumah, pohon jambu tiba-tiba kembali rajin berbuah, walau banyak di antaranya
yang berulat.
Waktu itu saya
tidak memahami perkataan ibu, sampai suatu ketika saya mengunjungi orang tua,
saat pohon jambu berbuah. Merahnya buah tampak mencolok dari kejauhan. Sebatang
galah bambu dan sapu lidi menyandar di batangnya. Tak lama serombongan anak memasuki
halaman sambil berteriak, ”Bu, minta jambunya ya”. Ibu hanya mengangguk dari
kejauhan. Lalu anak-anak itu berlarian mulai memetik jambu dengan galah, saat
selesai mereka menyapu halaman dari sisa-sisa jambu dan daun yang berjatuhan
saat mereka memetik. Tak lebih dari sekantung jambu yang dipetik, lalu mereka
mulai berdiskusi akan membuat asinan atau rujak, lalu masing-masing
menyumbangkan uang untuk membeli bahan-bahan lainnya. Kata ibu, mereka akan
terus datang sampai buahnya habis, dan mereka akan bergantian memetik, menyapu
dan berbagi kerja membuat panganan itu.
Ia memang bukan
sekedar pohon yang menghasilkan buah, ia pohon yang mengajari kehidupan pada
kami dan pada anak-anak lainnya.
Posted at 03:12 pm by Neng Jeni
Permalink
Wednesday, May 30, 2012
Eksperimen Sederhana Mengukur Polusi dan Hujan Asam Berhasil ke Jepang
“Memang saat ini hasil
pengamatannya belum berbicara apa-apa, tapi proses dan pengalaman yang didapatlah
yang menjadi prioritas kegiatan ini. Bagaimana membangun kepedulian anak-anak di
tingkat sekolah dasar atas masalah lingkungan yang terjadi di sekitar mereka,
dan bagaimana mereka dapat berpartisipasi dalam meminimalkan masalah tersebut”.
Demikian sepenggal penjelasan Koen Setyawan dari Jaringan Pendidikan Lingkungan
(JPL) pada saat presentasi di acara Obrolan Kamis Sore 10 Mei 2012 lalu.
Siswa-siswa dari
SDN Bantarjati 9 Bogor memang terlibat dalam kegiatan Pembelajaran Studi Polusi Udara dan Hujan Asam melalui Eksperimen
Sederhana. Kegiatan kerjasama antara sekolah dan ACAP (Asia Center for Air
Pollution Research) yang bermarkas di kota Niigata, Jepang. Sebelumnya, sekolah ini telah menerapkan
muatan lokal mengenai lingkungan dengan baik sekali. Upaya keras kepala
sekolah, para guru, siswa dan orang tua siswa untuk mengubah julukan sekolah
yang panas, gersang, kumuh dan miskin menjadi sekolah yang hijau dan ramah
lingkungan, telah membuahkan hasil dengan diterimanya penghargaan Adiwiyata
dari Kementerian Lingkungan Hidup sebagai sekolah hijau.
Eksperimen yang
berlangsung sejak bulan September 2011-Januari 2012 itu meliputi kegiatan
pengukuran keasaman air hujan (dengan menggunakan kertas lakmus), menentukan
konsentrasi debu dan NOx (dengan menempatkan kertas yang peka NOx di area padat
lalu lintas dan di dekat sekolah), mengukur konsentrasi debu (menggunakan alat
vakum), melihat pengaruh hujan asam terhadap tanaman (melihat pertumbuhan 3
bibit tanaman yang diberi perlakuan dengan menyiramkan air dengan tingkat
keasaman yang berbeda), serta mengukur tingkat keasaman air berpolutan (air
bersih, air sungai, air diberi perasan jeruk, dan air yang diberi polutan
seperti paku, plastik, kerang, dll).
Eksperimen
dilakukan oleh beberapa kelompok anak dan dibimbing oleh guru-guru mereka dan
pendamping dari JPL. Hasil dari eksperimen ini dipresentasikan pada Eco Kids
Conference di Kantor Pusat ACAP di Niigata, Jepang pada bulan Februari 2012 oleh
3 siswa SDN Bantarjati 9. Mereka saling bertukar hasil dan membuat rekomendasi
bersama mengenai berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh anak-anak dalam
mengurangi masalah polusi dan hujan asam.
Di tingkat kota
Bogor, ke depannya diharapkan kegiatan ini bisa ditularkan ke sekolah lainnya,
sehingga hasilnya dapat menjadi rekomendasi kepada Walikota Bogor dalam
mengelola polusi kota.
”Memang tidak mudah
menyampaikan pendidikan lingkungan kepada anak-anak bila menggunakan cara yang
konvensional (searah), tapi melakukan pendekatan yang sesuai dengan budaya
setempat dan menggunakan isu lingkungan yang berpengaruh pada kehidupan mereka
sehari-hari, masih dirasa yang paling efektif,” papar Koen. ”Isu air bersih
misalnya, bisa diterapkan di daerah Sambas yang biasa menampung air hujan
sebagai sumber air bersih mereka. Beberapa sekolah di pelosok Indonesia bahkan
sudah menjalankan program mikro-hidro, biogas, dan tandon air dalam mengatasi
permasalahan lingkungan di sekitarnya. Para pendamping lah yang harus jeli
melihat hal tersebut, mampu menggunakan berbagai saluran media dalam
menyebarkan informasi kepada target penerima yang berbeda, termasuk jeli
memanfaatkan sumber daya/ pengetahuan masyarakat setempat dalam mengelola alam,
karena biasanya masyarakat yang hidup di daerah yang miskin sumber daya alam
akan lebih kreatif dalam memanfaatkan dan menjaga sumber daya alam yang ada”,
pungkas Koen mengakhiri acara sore itu. [jeni shannaz]
Obrolan Kamis
Sore, 10 Mei 2012
Nara sumber :
Koen Setyawan (Jaringan Pendidikan Lingkungan) koensetyawan@yahoo.com
Posted at 11:21 am by Neng Jeni
Permalink
Wednesday, April 18, 2012
Penangkaran ex-situ satwa primata di Pusat Studi Satwa Primata IPB
Satwa primata merupakan salah satu kekayaan fauna yang dimiliki
Indonesia. Keragaman spesies satwa tersebut, saat ini menghadapi permasalahan yang
disebabkan kerusakan hutan, fragmentasi habitat,
perburuan dan illegal logging, kata Entang Iskandar, seorang ahli
primata dari Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) LPPM IPB, membuka Obrolan Kamis
Sore 12 April 2012 lalu.
Di area PSSP LPPM IPB yang terletak di pusat kota namun dipenuhi
rerimbunan pohon ini dilakukan berbagai studi jenis primata, mulai dari
penelitian penyakit hingga pengamatan perilaku, salah satunya adalah penangkaran
ex-situ beberapa spesies satwa primata yang terancam punah. Selain untuk mendukung program konservasi
(pelestarian), PSSP juga bertujuan untuk memanfaatkan satwa hasil penangkaran
untuk kepentingan penelitian, sehingga penangkapan langsung dari alam bisa
dihapuskan (pemanfaatan). Satwa yang ditangkarkan adalah Owa jawa (Hylobates moloch), Kukang (Nycticebus coucang) dan Tarsius (Tarsius spectrum). Selain penangkaran tersebut, dilakukan pula penangkaran Monyet
ekor panjang (Macaca fascicularis) dengan tujuan melestarikan dan
memanfaatkan hasil penangkaran tersebut untuk
penelitian biomedis.
Sistem penangkaran yang dilakukan disesuaikan dengan spesies dan tipe
kelompok yang ditangkarkan, seperti sistem penangkaran semi alami, sistem
koral, sistem kelompok dan sistem pasangan. Pada setiap jenis penangkaran,
dilakukan berbagai macam bentuk pengkayaan lingkungan (environmental enrichment), pengayaan habitat (habitat enrichment), dan bentuk pengelolaan lain untuk mendukung
keberhasilan penangkaran.
1. Owa Jawa (Hylobates moloch)
Owa jawa merupakan satwa endemik di Pulau Jawa, penyebarannya hanya
terbatas di Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pada tahun 2011, IUCN Red list memasukkan Owa jawa ke dalam
kategori endangered species,
sedangkan CITES menggolongkannya ke dalam Appendix I. Pemilihan Owa jawa
sebagai spesies yang ditangkarkan dirasa sebagai suatu tantangan, karena belum
banyak informasi yang ada mengenai jenis ini.
Penangkaran ex-situ Owa jawa dilakukan melalui kerjasama dengan Taman
Safari Indonesia. Upaya ini telah dimulai pada tahun 2003, dan didukung oleh
Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat PHKA, Kementerian Kehutanan.
Pada awalnya penangkaran jenis ini sangat beresiko, karena Owa jawa adalah
jenis monogami, belum tentu indukan yang dipasangkan ini berhasil kawin.
Penangkaran yang dilakukan dalam kandang berukuran 7,9m x 7m x 3,3m dan terdiri
dari 2 kompartemen ini dimulai dengan proses pemisahan induk, lalu dipasangkan.
Proses pemasangan ini berhasil, dan selama kurun waktu 8 tahun telah
menghasilkan 5 anak walau hanya 4 anak yang bertahan hidup, suatu prestasi
penangkaran yang sangat jarang terjadi di dunia.
Masalah biaya menyebabkan ke enam individu Owa jawa masih tinggal di
kandang yang sama. Idealnya, mereka sudah dipisahkan karena, di alam, satu
kelompok Owa jawa hanya terdiri atas 2-5 individu saja. Pelepasliaran keluarga
Owa jawa ini ke alam juga belum dimungkinkan karena seekor induk dan beberapa anakan
masih mengidap virus hepatitis. Selain bila tidak dilepasliarkan bersama
induknya, anak Owa jawa tidak berpengalaman hidup di alam bebas, dan akan
membahayakan hidupnya.
2. Tangkasi (Tarsius Spectrum)
Tangkasi merupakan spesies primata endemik
di Sulawesi, dan temasuk ke dalam kategori vulnerable (IUCN 2011), sedangkan CITES
mengategorikan Tarsius ke dalam Appendix I. Satwa nokturnal ini ditempatkan
secara berpasangan setelah melalui pemantauan tingkah laku untuk mengetahui
ketertarikan antar individu. Pada setiap kandang dilengkapi dengan enrichment untuk beraktifitas dan tempat
berlindung. Beberapa pasang tarsius yang ditangkarkan sudah berhasil bunting
dan memiliki anak. Dan dari 7-8 kelahiran belum satu anak pun yang bertahan
hidup. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut,
di antaranya memisahkan jantan pada saat betina bunting dan memodifikasi enrichment yang berada di dalam kandang.
Sampai saat ini kandang yang ada dirasa masih terlalu panas dan terang. Suara
kendaraan bermotor yang lalu lalang di sekitar fasililtas ditengarai juga
menjadi gangguan atas kegiatan ini.
3. Kukang (Nycticebus coucang)
Prinsip pengelolaan penangkaran kukang
sedikit berbeda dengan Tarsius walaupun keduanya merupakan satwa nokturnal. Perbedaan tersebut
terutama pada jenis pakan yang diberikan dan kelengkapan pengkayaan lingkungan.
Sistem pemasangan kukang dilakukan dengan cara yang sama seperti halnya proses
pemasangan Tarsius. Tiga
ekor anak kukang sudah berhasil dilahirkan dari pasangan yang berbeda, dan
salah satu di antaranya menjelang pradewasa.
4. 4. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)
Penangkaran semi alami monyet ekor panjang
di Pulau Tinjil dilaksanakan atas kerjasama Perum Perhutani dengan IPB, dengan ijin
penangkaran dari Ditjen PHKA. Introduksi pertama induk monyet ekor panjang di pulau seluas
600 ha ini
dilakukan pada tahun 1988, dan sampai saat ini total 603 ekor induk telah
diintroduksi ke P. Tinjil, yang berasal
dari Lampung, Palembang dan Jawa Barat dan semuanya telah melalui proses
karantina sehingga bebas dari penyakit.
Untuk mempermudah pemantauan populasi dibuat
13 transek melintang dan memanjang, serta dibuat 13 kandang yang
didistribusikan sesuai transek tersebut. Pemberian pakan tambahan dilakukan
sekali sehari walaupun pakan alami tumbuh yang tumbuh di sana mencukupi.
Pemberian pakan tambahan di dalam kandang juga bertujuan untuk memudahkan
proses “pemanenan”. Berdasarkan hasil survei populasi terakhir, terdapat sekitar
1700-1800 ekor monyet ekor panjang yang tersebar secara berkelompok di seluruh
bagian pulau. Pemanenan anakan hasil penangkaran dilakukan setiap tahun dengan
memperhatikan aspek kelestarian yang berkelanjutan. Kualitas
genetisnya pun terjaga, karena secara berkala dan acak diperiksa sampel
darahnya, sejauh ini tidak ada indikasi terjadi inbreeding.
Dengan keberhasilan penangkaran ini, P. Tinjil
juga dilengkapi fasilitas untuk pelatihan mengenai “Primate Conservation
Biology” untuk 18 orang yang diadakan rutin setiap tahunnya. Pelatihan ini juga
diikuti oleh peserta asing. Outreach Program juga dilakukan untuk masyarakat
yang tinggal berdekatan dengan fasilitas ini.
Di akhir pemaparan, ahli primata bersahaja ini
menginformasikan bahwa PSSP LPPM IPB terbuka bila ada mahasiswa yang berminat
melakukan penelitian di P.Tinjil, tentunya bila proposal mereka disetujui.
[jeni shannaz]
Obrolan Kamis Sore, 12 April 2012
Nara sumber: DR. Ir. Entang Iskandar, MSi (Pusat Studi
Satwa Primata LPPM IPB)
eniskandar@gmail.com
Posted at 11:40 pm by Neng Jeni
Permalink
Saturday, March 31, 2012
Mengejar Raptor Sampai ke Negeri Siam
Pada banyak pengamat burung, pesona jenis burung pemangsa (raptor) sulit sekali dihindari. Asman Adi Purwanto sampai rela meninggalkan pekerjaan tetapnya, demi memenuhi undangan untuk mengamati migrasi burung-burung pemangsa ini selama 3 bulan di Radar Hill, Thailand. Lokasi yang berketinggian 195 meter di atas permukaan laut, di antara Teluk Thailand (sebelah Timur) dan perbatasan Thailand dengan Myanmar (di sebelah barat), memang ideal sebagai tempat pengamatan, karena tempatnya terbuka, dikelilingi oleh perkebunan karet dan kelapa sawit, dan lokasi penempatan radar untuk keperluan militer. Pengamatan dilakukan sejak tanggal 10 September-12 Nopember 2011, setiap hari jam 08.00 - 17.00, oleh Asman bersama dengan 5 orang pengamat burung lainnya dari Thailand. Dari pengamatan burung yang bermigrasi yang melintas di Radar Hill, mereka menemukan: · 24 jenis raptor diurnal di mana 4 jenis di antaranya masuk kategori Rare Migrant (Eurasian Sparrowhawk Accipiter nisus, Steppe Eagle Aquila heliaca, Imperial Eagle Aquila nipalensis dan Amur Falcon Falco amurensis). · Beberapa jenis baru yang tercatat dan teramati di Radar Hill sejak tahun 2008, yaitu Jerdons Baza Aviceda jerdoni (78 individu), Crested Serpent Eagle Spilornis cheela (167 individu, tahun 2007 ditemukan di PPS Cikananga, Sukabumi), dan Shikra Accipiter badius. · 21 jenis non raptor, di mana ada satu jenis yang Rare Migrant, yaitu White-throated Needletail Hirundapus caudacutus. Jenis non raptor lainnya seperti Seriwang asia, Sepah kelabu, Srigunting kelabu, Cucak kuning, Kirik-kirik laut, Sikatan bubik, Bentet coklat, Murai-batu tarung, Cikrak mahkota. Total hasil pengamatan selama 3 bulan tercatat ada 161.337 individu dari 24 jenis raptor migran dan 7. 089 individu dari 21 jenis non raptor. Burung-burung migrasi tersebut terbanyak teramati pada pukul 09.00-10.00 dan antara pukul 14-15.00. Ada pun jenis-jenis yang mendominasi migrasi adalah Black Baza Aviceda leuphotes (70.390 individu = 43,6%, sangat jarang ditemukan di Indonesia), Oriental Honey-buzzard Pernis orientalis (32.423 individu = 20,1%, catatan perjumpaan di Jawa-Bali selama tahun 2008-2010 hanya 9.024 individu saja), Chinese Goshawk Accipiter soloensis (42.680 individu = 26,5%, catatan perjumpaan di Jawa-Bali selama tahun 2008-2010 hanya 43.612 individu saja), Japanese Sparrowhawk Accipiter gularis (2.926 individu = 1,81%, catatan perjumpaan di Jawa-Bali selama tahun 2008-2010 hanya 2.297 individu saja), Shikra Accipiter badius (1.620 individu = 1%, di Indonesia diketahui ada breeding resident di Sumatera) dan Grey-faced Buzzard Butastur indicus (10.454 individu = 6,48%, tercatat ada 6.004 individu di Sangihe tahun 2009). Jenis-jenis raptor yang bermigrasi dengan yang menetap (resident) mudah dibedakan, karena jenis yang bermigrasi biasanya terbang sangat tinggi, dan mereka biasanya sangat sensitif dengan kehadiran manusia. Fenomena ini juga terjadi di kawasan pengamatan migrasi raptor di Puncak, Jawa Barat. Di tahun-tahun belakangan ini, sejalan dengan makin padatnya area di sana, raptor yang terbang makin jauh dan tinggi sehingga sulit diamati. Nanang Khairul Hadi dari tim UKF IPB melaporkan dari hasil 4 kali pengamatan di Puncak tahun 2011 jumlah burung yang bermigrasi sangat sedikit, dengan total individu yang teramati sampai pertengahan November sekitar 1.000 ekor, di mana jumlah yang terbanyak adalah Accipiter soloensis. Sedangkan dari 7 kali pengamatan di kampus IPB Dramaga ditemukan sekitar 300 ekor, mereka datang dari arah yang berbeda (Ciampea). Sejauh yang diketahui Asman, jalur migrasi burung ini banyak dipengaruhi oleh cuaca, jenis vegetasi tidak terlalu berpengaruh, asal ada tutupan hutannya tidak harus hutan primer. Kebutuhan vegetasi ini antara lain sebagai tempat beristirahat (roosting site) dan tempat mencari makan. Di P. Rupat yang hutannya kini hancur, sejak tahun 2009 jumlah burung migrasi yang lewat mengalami penurunan. Di Kalimantan jenis Oriental Honey-buzzard melalui jalur yang banyak serangganya/ sarang lebah. Kebanyakan burung bermigrasi di siang hari, tetapi jenis Elang tiram bermigrasi di malam hari. Di Thailand sendiri, migrasi raptor ini banyak menarik perhatian orang, sehingga dibuat Festival migrasi burung yang rutin diadakah setiap tahun hasil kerja sama LSM dan pemerintah, yang didukung sepenuhnya oleh Dinas Pariwisata Provinsi, antara lain dengan menyediakan berbagai papan informasi di beberapa Service Area. Bahkan di Thailand sudah ada satu desa yang turut menjaga elang-elang tersebut, walaupun dengan konsekwensi ada sebagian lahan padi mereka yang rusak. Pada awalnya pun di tempat tersebut tingkat perburuannya tinggi , dan sulit sekali melihat burung. Akhirnya para pengamat berusaha meyakinkan penduduk bahwa burung bisa mendatangkan uang (penginapan, rumah makan), dan ternyata hasil yang didapat lebih banyak dari jumlah padi yang hilang. Beberapa teman di Indonesia juga berkeinginan agar fenomena migrasi burung ini bisa disebarluaskan, agar makin banyak orang yang bisa turut menikmati. Namun masih menimbang antara manfaat konservasi versus bisnis. Tetapi akan lebih baik lagi bila info-info seperti itu bisa disebarluaskan ke publik melalui berbagai media, sekaligus mendidik masyarakat tentang fenomena alam ini. Di akhir presentasi, Asman memberikan tips waktu-waktu terbaik untuk mengamati migrasi raptor ini di Radar Hill. Bila ingin melihat Chinese Goshawk, datanglah di minggu ke-3 September, Oriental Honey-buzzard di minggu ke-1 Oktober, Grey-faced Buzzard di minggu ke-2 Oktober dan Black Baza di minggu ke 3-4 Oktober. [jeni shannaz & irma dana] Obrolan Kamis Sore, 22 Desember 2011 Nara sumber : Asman Adi Purwanto (Raptor Indonesia) asman_adi@yahoo.com
Posted at 02:50 pm by Neng Jeni
Permalink
Friday, March 30, 2012
Pertambangan dan Nasib Lingkungan Indonesia
Mai, panggilan akrab Siti Maimunah, sudah 11 tahun terakhir malang
melintang di dunia pertambangan dan bergiat di Jaringan Advokasi Tambang (JATAM).
Saat ini Mai juga menjadi koordinator Civil Society Forum (CSF).
Hadir dan berbicara panjang lebar di Obrolan Sabtu Seru, tanggal 11
Februari 2012, mengenai pertambangan serta dampak yang ditimbulkan terhadap
lingkungan Indonesia akibat eksploitasi yang jor-joran oleh perusahaan tambang
serta maraknya pemberian ijin.
Bicara soal tambang tak lepas dari soal perijinan dan undang-undang yang mengaturnya,
Indonesia telah memiliki UU Pertambangan Umum sejak tahun 1967. Setelah kontrak
dengan Freeport ditandatangani, UU Indonesia banyak memberikan kemudahan pada perusahaan
asing.
Selain kemudahan yang diberikan pada perusahaan tambang asing, juga
terjadi tumpang tindih dalam pemberian ijin kepada perusahaan tambang. Tumpang
tindih konsesi bukan hanya dengan bidang kehutanan, juga antara perusahaan
tambang itu sendiri.
“Dulu ijin dikeluarkan oleh pemerintah pusat, sekarang pemerintah daerah (provinsi
dan kabupaten) bisa mengeluarkan ijin untuk konsesi tambang. Di Kalimantan
(bagian Indonesia) telah diterbitkan lebih dari 2.475 ijin tambang. Sedangkan di
Kalimantan Timur, yang luasnya 19,88
juta ha memiliki konsesi sektoral seluas 21,7 juta ha. Ada 1.271 ijin tambang di
sana mencakup luasan 4,4 juta ha, sekitar 22,1 % dari luas provinsi. Separuh
ijin di Kalimantan Timur ada di Kabupaten Kutai Kartanegara. Di Samboja ada 90
ijin perusahaan tambang. Kini, 71% luas Kota
Samarinda adalah kawasan tambang,” lanjut Mai, menyinggung pemberian ijin oleh
pemerintah daerah. Tak heran Samarinda kini seringkali dilanda banjir.
Mai lalu memunculkan peta tutupan lahan hutan di Papua, kemudian
ditumpangtindihkan dengan penyebaran Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu
(IUPHHK) , HTI, Perkebunan dan Pertambangan. Hasilnya,..... tak banyak lagi
hutan alam yang tersisa di sana.
“Banyak anggota TNI dikirimkan ke Papua, bukan untuk menjaga keamanan
Papua, tapi untuk menjaga investasi perusahaan tambang,” tambah Mai menyinggung
konflik di Papua. Investasi perusahaan tambang asing yang makin merajalela di wilayah
Indonesia, juga peluang korupsi. Karena ijin tersebut bukan jadi alat regulasi,
tapi menjadi alat transaksi.
Mai juga menyinggung
bahwa sebuah Negara sesungguhnya terdiri atas pemerintah, wilayah dan warga negara. Wilayah bersama sumber daya
alam (SDA) di dalamnya yang merupakan ruang
dan sumber hidup warga negara, telah bergeser menjadi paradigma sempit dipandang
sebagai komoditas penghasil devisa.
Akibatnya, tiap periode pemerintah berlomba melakukan “keruk habis, jual cepat” SDA, lewat kebijakan instan dan praktek
yang tidak dikontrol. Akibatnya konflik
dan korupsi menjadi sebuah keniscayaan di sekitar kawasan kaya sumber
daya alam, khususnya pertambangan.
Negara-negara yang bergantung pada ekspor minyak dan mineral cenderung memiliki
tingkat korupsi sangat tinggi, pemerintahan yang otoriter, tingkat kemiskinan dan
kematian anak tinggi, ketidakadilan pemerataan ekonomi serta rentan terhadap
kerapuhan ekonomi (Extractive Industry and the Poor, 2001, Oxfam Amerika).
Tambang adalah kegiatan rakus lahan, alat-alat negara
dimobilisasi untuk pembebasan lahan. Penggusuran lahan, pengusiran hingga
“relokasi” terjadi hampir di semua lokasi tambang. Contohnya, kasus pembakaran
500 lebih pondok Pangerebo di Kawasan PT IMK Kalteng; pembebasan lahan oleh British
Petroleum di Kampung Tanah Merah Teluk Bintuni Papua dihargai Rp15,- per meter,
setelah konflik harganya baru dinaikan menjadi Rp 50,- per meter.
Keadaan di atas
diperburuk dengan adanya dokumen AMDAL yang kualitasnya tidak memadai. Walaupun
sudah ada 9.000 dokumen AMDAL yang disetujui oleh pemerintah, namun tidak
menjamin mengurangi kerusakan lingkungan. Dari 474 kabupaten/kota di Indonesia
pada tahun 2008, baru terdapat 119 Komisi Penilai AMDAL, itupun yang berfungsi
hanya 50% saja. Sedangkan sekitar 75% mutu dokumen AMDAL berkualitas buruk
hingga sangat buruk (Kementerian Lingkungan Hidup, 2008).
Data lain yang menarik
adalah, “Dari sekitar 8.000 ijin pertambangan, 75%nya tumpang tindih dengan
peruntukan lain”, (Hatta Rajasa, Mei 2011). “Hingga Februari 2012 telah menjadi 9.700
perijinan”, (peneliti Demos 2012).
Sifat pertambangan itu sendiri adalah, 1. tak terbarukan; 2. berumur
pendek; 3. berdaya rusak (rakus lahan, air energi, limbah yang jumlahnya masif);
4. Orientasi Ekspor
Sejauh ini praktek kegiatan
tambang, banyak membawa dampak negatif bagi lingkungan dan tidak ada pengawasan
dari pemerintah. Kerugian yang ditimbulkan mulai dari banjir, penghancuran
hutan, pelenyapan lahan pangan, sampai pencemaran di badan-badan air. Bayangkan,
untuk menghasilkan 1 gram emas maka akan menghabiskan :
- Lebih dari 100 liter air
- 2,1 ton limbah batuan dan tailing
- 5,8 kg emisi beracun: 260 gr timbal, 139 gr arsen,
6,1 gr merkuri & 3 gr sianida
- 10% energi dunia digunakan industri tambang.
Pengawasan
juga sangat lemah saat penutupan tambang dan pelaksanaan reklamasi dilakukan
secara asalan. Tidak ada jaminan pemulihan sosial dan lingkungan atas lahan
bekas penambangan, dan meninggalkan “danau-danau” buatan terbuka tanpa
pengamanan yang tak jarang memakan korban jiwa.
Banyak
daerah di Indonesia yang kaya sumber daya alam tambang, tetapi masyarakat di daerah
tersebut hidupnya jauh dari cukup. Sebagai contoh di Kalimantan. Lebih dari 200
juta ton batubara yang dikeruk dari bumi Kalimantan, hanya 2% nya saja yang
digunakan penduduk Kalimantan. 20-30% di antaranya untuk pasokan di Sumatera
dan Jawa, sisanya di ekspor ke Jepang, Cina, Amerika dan Eropa.
Lantas,
apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat sipil?
- Melaporkan penggusuran lahan
- Melaporkan pencemaran dan perusakan lingkungan
serta terlibat dalam tim pemerintah
- Melaporkan tumpang tindih lahan
- Mengawal perubahan PP2/2008 menjadi UU No.
19/2004
- Memperkarakan ke Mahkamah Konstitusi
- Memfasilitasi dialog-dialog
- Lomba investigasi korupsi
Apakah
hasil di atas cukup efektif? “Belum, kalau hanya segelintir orang saja yang
melakukan.... tapi kalau seluruh kelompok masyarakat peduli dan mau bergerak
bersama, bukan mustahil akan ada perubahan yang signifikan dari praktek
pertambangan ini,” pungkas Mai menutup acara Obrolan Sabtu Seru. [irma dana
& jeni shannaz]
Obrolan
Sabtu Seru, 11 Februari 2012
Nara
sumber: Siti Maimunah (Jaringan Advokasi Tambang)
mai@jatam.org
Posted at 11:10 am by Neng Jeni
Permalink
Friday, July 09, 2010
Belum.... belum selesai, emosi saya masih ajrut-ajrutan sampai hari ini....
Alhamdulillah, si Mas akhirnya mendapat tempat di PTN yang diidam-idamkannya. Senang dan bangganya masih saya rasakan hingga kini. Saya merasakan betul kerasnya upaya si Mas sejak awal tahun ini, mulai dari persiapan UN hingga melalui beberapa ujian untuk memasuki universitas. Mas memang bukan siswa unggulan di sekolah bahkan sempat mendapat julukan "si pembuat onar". Tetapi nilai UN dan keberhasilannya mendapat PTN membuat kebanggaan tersendiri buat Mas dan bagi orang-orang terdekat si Mas, termasuk wali kelasnya di kelas 11 dan 12 yang menaruh kepercayaan penuh dan banyak memberikan dorongan moral bagi si Mas. Buat si Mas, ini adalah pembuktian bahwa dia tidak seburuk yang dianggap banyak orang.
Masalahnya sekarang ada pada saya...
Beberapa hari setelah pengumuman PTN tersebut, Mas dan teman-temannya sudah mendapat tempat kost. "Itu tempat kost buat laki-laki bu, rumah baru, bersih, ada kamar mandi di dalam, cuma 10 menit dari kampus, bapak-bapak yang jaga galak."
Hal pertama yang terpikirkan saat itu adalah, yaaahhhh .. makin kosong deh ni rumah.... Misalnya pun si Mas melajo dari Bogor, itu bukan hal yang sulit dilakukan sehari-hari. Keputusannya untuk mandiri itu perlu saya hargai dan banggakan. Mas pun sepertinya senang sekali menyambut kehidupan barunya sebagai mahasiswa. Semangatnya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai mahasiswa baru, membuat daftar kebutuhan kost sampai rincian kebutuhan dan pengeluaran bulanan. Bahkan Mas juga sudah menyurvei lingkungan sekitar tempat kostnya.
Ada rasa bangga karena si Mas terlihat mulai menata dirinya, tapi saya tetap tidak bisa memungkiri adanya ancaman akan rasa kehilangan, dan membuat saya tidak nyaman. Sepertinya saya ingin memanfaatkan setiap waktu yang tersisa ini untuk membuat seolah-olah saya masih dibutuhkan, saya masih berperan... saya masih belum sepenuhnya siap melepaskan sebagian tanggung jawab saya kepada si Mas.
Beberapa waktu lalu, saya pernah mendengar percakapan si Mas sama Adek,
"Mas, si Ibu makin bawel aja ya belakangan ini, kamu sih enak bentar lagi kost, nah aku, masih 3 tahun lagi. Ntar kamu tiap minggu pulang kan, Mas?"
"Lha iyalah, aku tiap minggu mo makan enak gak pake bayar. Sekalian ambil duit bulanan, hahaha.."
"Trus aku kalo di rumah sendirian ngapain?"
"Ya ngapain aja, tuh main komputer sepuasnya, gak ada yang gangguin kan. Les musik lagi kan bisa"
"Trus ngapain lagi, masa cuma berdua ama ibu aja?"
"Yeee, nikmatin aja lagi, ibu tuh biar bawel juga tapi semua urusan jadi beres kan." "Oiya, ntar aku ajakin ibu inspeksi mendadak ke tempat kost Mas!" "Sok tau, emang kamu tau tempat kost Mas di mana."
Duh, rupanya Adek pun mengalami hal yang sama. Mereka berdua memang sangat dekat. Memiliki kesukaan yang sama dan teman-teman main yang sama. Suatu ketika, selama seminggu Adek pernah kemrungsung gak jelas, bikin orang serumah bete. Penyebabnya ya itu, bete karena bakal ditinggal Masnya.
Mungkin ini kualat saya kepada orang tua, karena waktu kuliah dulu juga sering nggak pulang dan lupa berkabar kepada mereka, walau saat itu kota tempat saya kuliah adalah yang paling dekat dengan rumah dibandingkan dengan kakak dan adik saya.
Mungkin ini juga rasa yang sama, ketika mama dan papa dulu "melepaskan" anak-anaknya satu per satu.
Entah lah...
Posted at 04:15 pm by Neng Jeni
Permalink
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|