Ibu dari dua orang anak yang sedang tumbuh dewasa. Suka dengan burung hantu karena lucu walaupun suaranya nggak merdu.
|
 |
Dulu, si mas pernah nyeletuk gini ..... "adek kan anak kesayangan ibu".
ups, ini hati rasanya kayak disentil deh. saya memang sering diskusi panjang sama si mas, dan biasanya diakhiri dengan saling meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.
saya sendiri menyadari bahwa diskusi memang lebih sering dilakukan bersama si mas, tanpa bermaksud mengelak, sampai kapan pun pengalaman pertama si mas adalah juga pengalaman pertama bagi saya. apalagi si mas adalah orang yang sangat amat spontan, sering kali kata yang keluar adalah hal yang terpikirkan saat itu.
adek, sedari dulu pandai membaca situasi ini. seperti sifat anak 2,3, dst pada umumnya yang follower sang kakak, adek hampir tidak pernah mengulang "kesalahan" yang pernah dilakukan si mas. ditambah sifatnya yang tertib dan teratur, boleh dibilang pengalaman saya bersama adek mulus-mulus saja. adek cenderung mencari jalan aman.
walaupun tidak pernah diakuinya, hampir semua kegiatan yang dilakukannya adalah meniru si mas, dan dia selalu ingin "mengalahkan" si mas dalam segala hal, mulai dari pilihan bahasa asing, kegiatan ekskul, bermain musik sampai urusan tinggi badan.
kalau si mas cenderung meledak-ledak, adek selalu cermat memilih kata, waktu dan peluang. tanpa diminta adek sering menghibur kami, walaupun sekedar menemani kala saya bermanyun ria di dapur atau sekedar mengelus dan mencium akung dan yangti. sehingga hampir semua permintaannya tak kuasa kami tolak. tanya saja pada semua yang pernah menjadi korbannya .... manipulator sejati, tapi adek bercita-cita jadi ilmuwan ....
pagi ini, dia hanya tersenyum jaim, waktu di depan kaca saya berkata, hari ini kamu baru 14, tapi kamu sudah lebih tinggi dari ibu...
|