Ibu dari 3 lelaki manja. Suka dengan burung hantu karena lucu walaupun suaranya nggak merdu.




   

<< April 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Berkunjung ke :

Adri
Atta
Bangsari
BananaTalk
David & Nana
Dinda
Fitri Mohan
Ghilman
Jumadi Sumuk
Kabar Burung
Kisah Merahitam
Luigi
Mariskova
Nananias
Mas Hedi
Mas Yoyok
Mbak Eny
Mbilung
Nabilla.ra
Paman Tyo
Pecas Ndahe
Putri
Rara
Tito
Venus

Me and my family

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from jeni_shannaz. Make your own badge here.

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


rss feed

Monday, April 26, 2010
Ujian yang Memusingkan

si Mas lulus Ujian Nasional (UN) SMA hari ini, itu sudah kami perkirakan, juga karena si Mas yakin dia bisa mengerjakannya dengan baik. Perkara lulus dengan nilai seberapa pun pasti kami syukuri.

Entah ini hanya kebijakan dari sekolahnya atau kebijakan dari Diknas, bahwa hasil UN ini harus diambil oleh orang tua. Dan pagi tadi, dalam perjalanan ke sekolah dan menunggu hasil UNnya sudah sukses membuat saya kemringet ndak keruan.

Sejak Januari kemarin memang emosi saya seperti roller-coaster, mungkin ini juga yang dialami oleh para orang tua yang anaknya sedang menghadapi UN. Mulai dari berita seputar jadi tidaknya pelaksanaan UN, jadwal UN yang mundur maju, persiapan menjelang UN, sampai jadwal ujian di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta yang sudah dilakukan, bahkan sebelum UN itu sendiri berlangsung.

Rasanya kok tidak adil kalau saya memperlihatkan emosi ini ke si Mas, mengingat si Mas sendiri yang akan menjalani UN pastinya lebih stress dari kami orang tuanya. Mungkin pihak sekolah juga mengalami hal yang sama.

Selama semester ini, para siswa menghadapi 2 kali try-out yang diadakan oleh Diknas dan beberapa test yang diadakan oleh pihak sekolah. Panik? pastinya.... walaupun di sekolah si Mas para guru tidak panik karena jadwal UN dimajukan, tapi banyak sekolah lain yg harus ngebut di saat-saat terakhir untuk mengejar materi ajar yang belum terselesaikan.

Apakah try-out itu yang tujuannya untuk mengenalkan siswa akan tata cara pelaksanaan UN sesungguhnya, sekaligus membiasakan diri dengan format soal dalam ujian itu berguna? Sepertinya hanya menambah tingkat stress siswa. "Bu, tadi masa lembar jawaban komputer temenku luntur ke tangannya", "Bu, masa ada beberapa nama temenku yang berubah, bahkan ada nama orang yang nggak ada di sekolahku, "Bu, nilai try-out ku kalo pake kunci jawaban dari Diknas, nilainya lebih rendah 14 poin dari kunci jawaban yang dibikin ama guruku", "Bu, tadi ada beberapa soal yang nggak ada jawabannya", "Bu, tadi waktu materi listening di mata pelajaran B. Inggris, orang yang ngomong kayak kumur-kumur, guruku juga gak ngerti tu orang ngomong apa".

Itu sebagian komentarnya si Mas setelah menjalani try-out itu. Rasanya tidak terlalu berlebih bila banyak orang tua yang menentang pelaksanaan UN ini. Banyak faktor teknis pelaksanaan UN yang memengaruhi hasil UN itu, dan semua itu di luar kuasa siswa, pengajar maupun sekolah.

Menyedihkan sekali, bila beberapa hari lalu Bapak Menteri Pendidikan kita mengomentari tingginya tingkat ketidaklulusan di DIY sebagai meningkatnya nilai kejujuran di sana. Hellow?????  Shocked Mungkin sudah tidak ada lagi putra Beliau yang masih duduk di sekolah menengah, sehingga beliau buta tuli dalam pelaksanaan UN ini.

Suatu hari lalu, si Mas juga pernah bercerita bahwa ada 2 orang temannya seangkatannya sudah lulus SMA, bahkan satu di antaranya sudah kuliah. Kedua temannya tersebut memilih untuk berhenti dari sekolah formal pada saat kenaikan kelas tahun lalu dan mengikuti program home schooling, dan mereka lulus ujian Paket C di tahun lalu juga.

Selama semester ini pula, banyak perguruan tinggi negeri dan swasta yang telah melaksanakan ujian masuk secara mandiri dan bersama-sama. Mas dan beberapa orang temannya bahkan sudah mendapatkan tempat di perguruan tinggi tersebut.

Sampai saat ini saya masih tidak bisa mengerti, apa gunanya UN tersebut? Toh, semua perguruan tinggi tersebut tidak memerlukan nilai UN pada saat menseleksi calon mahasiswanya.  Mereka juga tidak melihat dari sekolah mana mereka berasal. Mereka hanya memerlukan ijasah kelulusan saat pendaftaran ulang. Banyak perguruan tinggi di luar negeri bahkan tidak memerlukan ijasah kelulusan tersebut, nilai raport dan nilai ujian masuk sudah cukup menjadi pegangan bagi mereka.

Saya sedikit menyesal karena tidak memahami hal terkait UN sejak awal. Bila tahu, pasti saya tidak akan menambah beban si Mas dengan menyuruhnya menyelesaikan pendidikan sampai tahun terakhir. Cukup ambil ujian Paket C.

Benar nilai ujian akhir adalah salah satu penilaian tingkat pemahaman siswa akan materi ajar yang sudah diberikan, tapi apakah mesti dengan melalui UN? Apa gunanya status disamakan, bila sekolah tidak diijinkan melakukan ujian sendiri. Apa benar hasil UN ini merupakan penanda bahwa siswa siap memasuki pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, lalu mengapa perguruan tinggi mengadakan ujian tersendiri yang bisa dipastikan soal-soalnya jauh berbeda dengan soal-soal yang biasa diujikan pada tingkat SMA?

Ah, saya masih harus menghadapi proses ini kembali 3 tahun lagi saat Adek di SMA, atau mungkin saat itu juga saya, bapake dan Adek cukup mantap dengan memilih tidak mengikuti UN? Entahlah..

Akhirnya, hari ini saya merasa bungah sekali, mengingat kondisi si Mas yang on and off, untuk kedua kalinya, dia bisa membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak selemah yang dikiranya.

Selamat Mas!! Masih ada beberapa tahap lagi ke depan.... go for it!!



Posted at 01:46 pm by Neng Jeni

nengratna
May 2, 2010   10:53 PM PDT
 
wah kalo udah gede aku mau bisnis bimbel aja. kan kalo sistem pendidikannya begini aku bisa untung besar. taraaamm...







-___-" astagfirullah
ibunyachusaeri
April 30, 2010   02:55 PM PDT
 
Memang UN sekarang lebih membuat siswanya stresss, zaman dulu kayaknya ga gitu2 amat
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry