Ibu dari 3 lelaki manja. Suka dengan burung hantu karena lucu walaupun suaranya nggak merdu.




   

<< May 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Berkunjung ke :

Adri
Atta
Bangsari
BananaTalk
David & Nana
Dinda
Fitri Mohan
Ghilman
Jumadi Sumuk
Kabar Burung
Kisah Merahitam
Luigi
Mariskova
Nananias
Mas Hedi
Mas Yoyok
Mbak Eny
Mbilung
Nabilla.ra
Paman Tyo
Pecas Ndahe
Putri
Rara
Tito
Venus

Me and my family

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from jeni_shannaz. Make your own badge here.

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


rss feed

Wednesday, May 30, 2012
Eksperimen Sederhana Mengukur Polusi dan Hujan Asam Berhasil ke Jepang

“Memang saat ini hasil pengamatannya belum berbicara apa-apa, tapi proses dan pengalaman yang didapatlah yang menjadi prioritas kegiatan ini. Bagaimana membangun kepedulian anak-anak di tingkat sekolah dasar atas masalah lingkungan yang terjadi di sekitar mereka, dan bagaimana mereka dapat berpartisipasi dalam meminimalkan masalah tersebut”. Demikian sepenggal penjelasan Koen Setyawan dari Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL) pada saat presentasi di acara Obrolan Kamis Sore 10 Mei 2012 lalu.

Siswa-siswa dari SDN Bantarjati 9 Bogor memang terlibat dalam kegiatan Pembelajaran Studi Polusi Udara dan Hujan Asam melalui Eksperimen Sederhana. Kegiatan kerjasama antara sekolah dan ACAP (Asia Center for Air Pollution Research) yang bermarkas di kota Niigata, Jepang. Sebelumnya, sekolah ini telah menerapkan muatan lokal mengenai lingkungan dengan baik sekali. Upaya keras kepala sekolah, para guru, siswa dan orang tua siswa untuk mengubah julukan sekolah yang panas, gersang, kumuh dan miskin menjadi sekolah yang hijau dan ramah lingkungan, telah membuahkan hasil dengan diterimanya penghargaan Adiwiyata dari Kementerian Lingkungan Hidup sebagai sekolah hijau.

Eksperimen yang berlangsung sejak bulan September 2011-Januari 2012 itu meliputi kegiatan pengukuran keasaman air hujan (dengan menggunakan kertas lakmus), menentukan konsentrasi debu dan NOx (dengan menempatkan kertas yang peka NOx di area padat lalu lintas dan di dekat sekolah), mengukur konsentrasi debu (menggunakan alat vakum), melihat pengaruh hujan asam terhadap tanaman (melihat pertumbuhan 3 bibit tanaman yang diberi perlakuan dengan menyiramkan air dengan tingkat keasaman yang berbeda), serta mengukur tingkat keasaman air berpolutan (air bersih, air sungai, air diberi perasan jeruk, dan air yang diberi polutan seperti paku, plastik, kerang, dll).

Eksperimen dilakukan oleh beberapa kelompok anak dan dibimbing oleh guru-guru mereka dan pendamping dari JPL. Hasil dari eksperimen ini dipresentasikan pada Eco Kids Conference di Kantor Pusat ACAP di Niigata, Jepang pada bulan Februari 2012 oleh 3 siswa SDN Bantarjati 9. Mereka saling bertukar hasil dan membuat rekomendasi bersama mengenai berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh anak-anak dalam mengurangi masalah polusi dan hujan asam.

Di tingkat kota Bogor, ke depannya diharapkan kegiatan ini bisa ditularkan ke sekolah lainnya, sehingga hasilnya dapat menjadi rekomendasi kepada Walikota Bogor dalam mengelola polusi kota.

”Memang tidak mudah menyampaikan pendidikan lingkungan kepada anak-anak bila menggunakan cara yang konvensional (searah), tapi melakukan pendekatan yang sesuai dengan budaya setempat dan menggunakan isu lingkungan yang berpengaruh pada kehidupan mereka sehari-hari, masih dirasa yang paling efektif,” papar Koen. ”Isu air bersih misalnya, bisa diterapkan di daerah Sambas yang biasa menampung air hujan sebagai sumber air bersih mereka. Beberapa sekolah di pelosok Indonesia bahkan sudah menjalankan program mikro-hidro, biogas, dan tandon air dalam mengatasi permasalahan lingkungan di sekitarnya. Para pendamping lah yang harus jeli melihat hal tersebut, mampu menggunakan berbagai saluran media dalam menyebarkan informasi kepada target penerima yang berbeda, termasuk jeli memanfaatkan sumber daya/ pengetahuan masyarakat setempat dalam mengelola alam, karena biasanya masyarakat yang hidup di daerah yang miskin sumber daya alam akan lebih kreatif dalam memanfaatkan dan menjaga sumber daya alam yang ada”, pungkas Koen mengakhiri acara sore itu. [jeni shannaz]

 

Obrolan Kamis Sore, 10 Mei 2012

Nara sumber : Koen Setyawan (Jaringan Pendidikan Lingkungan)                    koensetyawan@yahoo.com


Posted at 11:21 am by Neng Jeni

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry