Pertanyaan di atas ini lebih cocok buat refleksi diri sendiri sebenernya. Diri saya maksudnya ....
Pikir-pikir, dari dulu nggak pernah ada satu kegiatan pun yang saya seriusi sampai tuntas. Serius tuh maksudnya menguasai sampai mahir atau sampai berprestasi gitu. Mulai dari kegiatan yang remeh temeh sampai yang serius. Penasaran aja diawalnya kok orang lain pada bisa, saya nggak bisa.
Waktu SMP dulu pernah pingin banget bisa main gitar, apa daya permintaan untuk ikutan kursus gitar nggak pernah dikabulkan. Kebetulan kok teman se kost waktu kuliah dulu jagoan main gitar, kesempatan kan kursus gratis. Setelah bisa kencrang kencring beberapa lagu favorit, trus ya udah, gak pingin lagi. Gitu juga dengan kegiatan nari dan nyanyi.
Waktu SMA dulu nggak pernah kesampaian ikutan PA, gak pernah boleh
. Masa-masa kuliah kesempatan buat "jalan-jalan" jadi terbuka lebar, mulai dari blusukan di hutan dan gunung sampe blusukan ke dalem laut. Alasannya ya macem-macem, kuliah lapangan lah, diajak main temen lah, bantuin temen penelitian lah, sampe yang gak sengaja lolos ujian ikutan ekspedisi ilmiah internasional. Kata mandi seperti barang langka yang jarang terdengar. Sekarang disuruh gitu lagi? nggak lah ya. Kini piknik, tidur enak, air panas, rumah makan...... baru nyaman
.
Jaman-jamannya tenaga masih sama dengan batere energizer, ibu saya pernah komentar, "hobby kok baris berbaris". Karena bujukan kakak kelas yang mantan paskibraka, jadilah kami-kami ini tim paskibra sekolah yang juara I baris berbaris tingkat DKI Jakarta. Dulu rasanya seperti nasionalis sejati, bisa mengibarkan dan menghormati bendera dengan baik serta memahami Pancasila dan UUD 45. Wuiihh...
Saya ini dulu tipe orang yang mendam kemarahan. Rasanya enak kali ya kalo sekali-sekali bisa mbales mukul orang tapi diijinkan. Akhirnya ikutan karate. Ini berguna juga, secara saya dulu suka keluyuran tidak pandang waktu. Serius juga latihannya, dan saya rela nggak pulang ke rumah di akhir minggu buat ikutan latihan. Saat masuk ban hijau, latihan mengendor dan akhirnya berhenti sama sekali. Wong udah PD kok, walau nggak pernah sekali pun mukul orang (gmana mo mukulnya, wong temennya anak-anak umur 9 tahunan). Paling enggak, keseimbangan saya terlatih baik saat itu.
Hari-hari saya dulu banyak diisi dengan olah raga. Tenis, bulutangkis dan volley terhenti setelah saya mendapat cedera di siku dan di pergelangan tangan. Bersepeda juga berhenti karena sepeda rusak berat saat saya bersalto ria di turunan tajam, dan menghasilkan lecet di sana sini, untung aja gigi depan nggak rontok. Renang sampe gosong dan menguasai beberapa gaya dengan baik, cukuplah buat bekal skin diving. Basket, mmmm.... sudah masuk tim universitas kok dulu, masih berminat main sampe sekarang .. tapi siapa yang mo diajak main? Secara napas juga udah nggak panjang lagi.
Saya ini aslinya orang rumahan, seneng beberes (walaupun nggak pernah sukses menata rumah dengan apik) dan senang menghasilkan sesuatu saat di rumah. Beberapa keranjang, magnet tempelan di kulkas dan jepit rambut dari paper clay terpajang manis di rumah. Beberapa taplak meja juga terpajang indah di beberapa rumah keluarga dan teman hasil iseng saya mempelajari crochet. Itu masih ada beberapa bal benang jala menunggu untuk dirangkai... 
Masih banyak lagi kegiatan saya seperti yang ini, yang kini terhenti. Mungkin nggak sabar, mungkin bosan, mungkin juga karena udah nggak ada tantangannya lagi. Walau niat selalu ada untuk ini dan itu.
Alhamdulillah, sampai saat ini saya nggak pernah bosan dengan kegiatan berumah tangga. Selalu ada hal baru, selalu ada tantangan tiap harinya, walau kadang mati gaya....
*sumprit ini bukan excuse karena sering bolos nulis ...*