Neng Jeni, lagi......




Ibu dari dua orang anak yang sedang tumbuh dewasa. Suka dengan burung hantu karena lucu walaupun suaranya nggak merdu.




   

<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Berkunjung ke :

Adri
Atta
Bangsari
BananaTalk
David & Nana
Dinda
Fitri Mohan
Ghilman
Jumadi Sumuk
Kabar Burung
Kisah Merahitam
Luigi
Mariskova
Nananias
Mas Hedi
Mas Yoyok
Mbak Eny
Mbilung
Nabilla.ra
Paman Tyo
Pecas Ndahe
Putri
Rara
Tito
Venus

Me and my family

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from jeni_shannaz. Make your own badge here.

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


 
Friday, October 02, 2009
Cemas nggak beralasan?
Belakangan ini kekhawatiran saya meningkat, itu si mas dan adek tenang-tenang saja, walaupun tahun depan keduanya akan memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Rasanya ini mulut dari awal semester lalu udah semakin berbusa-busa memotivasi dan
"menceramahi" keduanya, tapi sepertinya nggak berefek pada yang bersangkutan
Sad. Ditambah lagi dengan "mood" keduanya yang on off itu dan ketidakpedulian mereka akan tenggat waktu, tak pelak julukan ibu-ibu bawel sudah berkumandang jauh hari sebelumnya.

Menyampaikan harapan saya sebagai orangtua, sudah diskak mat dari kemarin-kemarin, "jadi, ibu nggak percaya nih sama aku, masak setiap aku belajar mesti lapor, lagian kan aku udah janji, nanti ibu tunggu aja hasilnya, pokoknya aku gak akan ngecewain kalian deh."

Doh, musti bilang apa coba, ilmu tarik ulur kok rasanya udah nggak manjur, ajakan belajar bersama juga nggak mempan, malah menurut mereka saya mau memata-matai. Sekali dua mereka mau "mengajari" saya dengan menceritakan kembali pelajaran yang mereka terima di sekolah, walau itu hanya terbatas pada mata pelajaran favorit mereka saja.

Sesungguhnya, saya menikmati sekali "diajari" oleh si mas dan adek, terutama bila isu yang dibahas agak-agak gimana gitu, dan saya banyak menganga waktu si mas berkata, "ibu tuh nggak boleh berpandangan sempit, kata siapa lesbi, gay, poliandri atau incest itu salah, kita mau ngomongin dari sudut mana nih, agama, etika apa sosiologi".
Nah.. nah.. nah...
Shocked
Atau kadang saya malah tertawa geli *dalam hati tentunya* waktu tau kalo si mas pingin banget masuk surga, supaya bisa makan babi panggang masak alkohol!!! "Di surga nggak ada makanan haram, bu".

Dan diskusi ini bisa jadi panjang atau malah berakhir dengan "gak mutu" menurut penilaian si Mas, bila adek, sang licking man (julukan dari si mas lagi), mulai membanggakan prestasinya di sekolah.

bu, sekarang semua murid kelas 9 dikelompokin

buat apa?

selama pendalaman materi, biar nggak ada yang jomplang gitu kalo lagi belajar, ada 5 kelompok, A-E, aku dapet kelompok B *sambil nyengir jaim*


bagus dong kalo gitu, bersaing ketat ya ...


ah, biasa aja tuh *masih nyengir jaim*. eh, ibu masih inget kan kalo anak2 MAT (music art theatre) harus pentas sebagai tugas akhirnya


iya masih, emang kapan, kok ibu gak pernah liat kamu sibuk ngapalin naskah


justru itu tugas beratnya bu, gurunya cuma ngasih garis besar ceritanya, kata-katanya
improvisasi sendiri

o gitu, trus kamu jadi siapa?


mmm siapa ya, lupa


kok?


tapi, seperti biasa, gini gini juga aku jadi pemeran utama lho


ohya? selamet ya dek... trus garis besar ceritanya tentang apa?


oh, tentang orang yang memiliki kesulitan dalam BAB, dan akhirnya penyakit itu mewabah di seluruh kota


heh? dan kamu jadi pemeran utamanya?


si adek mengangguk kuat diiringi gelak tawa si mas dari kamarnya....

Jadi teringat kembali, bertahun-tahun silam adek juga pernah dengan bangganya berkata "aku jadi pohon!!" saat pentas di kelulusan TKnya
Smile.


Posted at 04:01 pm by Neng Jeni
Ada (7) yang nyahut  

 
Friday, June 05, 2009
selamat pagi......
ya, membicarakan isu kerusakan lingkungan rasanya nggak ada habis-habisnya, namun banyak juga yang akhirnya bertanya kembali ... trus saya bisa bantu apa?

jawabannya sederhana sekali .... rubahlah perilaku Anda! terutama perilaku "mentang-mentang" dan "mumpung" itu...

buat saya, memelihara perilaku di atas ini adalah akar segala permasalahan yang ada di bumi ini. banyak di antara kita yang berperilaku baik hanya di dalam lingkungannya sendiri saja, tapi tidak diterapkan kala berada di luar lingkungannya. dalam menjaga kebersihan misalnya, suatu ketika saat saya menunggu si mas pulang les di tempat parkir, saya terganggu oleh mobil di sebelah saya yang aktif sekali membuang sampah, terdengar lamat-lamat si ibu berkata, "ayo dek, mobilnya jangan dikotorin, sampahnya kita buang ya," dan aneka pembungkus makanan dan minuman ringan pun melayang keluar dari jendela mobil. si ibu hanya cemberut dan buru-buru menaikkan kaca jendela mobilnya sambil menolak kantung plastik yang saya sodori untuk menampung sampahnya.....

mentang-mentang dapat fasilitas kantor boleh dong memboroskan listrik, ATK, air; mentang-mentang sudah punya NPWP boleh dong ngotorin jalan; mentang-mentang sudah bayar kompensasi boleh dong nimbun rawa, nebang hutan, bongkar gunung, mentang-mentang punya kuasa boleh dong.....

bukan sekali dua saya mendapat cercaan "hey, mind your own business" atas perilaku saya di atas. tapi, hey .... boleh dong saya juga mengingatkan kalau Anda sudah mulai menggali kuburan Anda sendiri dan lebih parah lagi karena perilaku mentang-mentang itu Anda juga menarik paksa orang lain untuk masuk ke kuburan itu....

bumi kita sudah kewalahan, dan kita yang berada di atasnya sudah seharusnya menyelamatkannya, yang dengan sendirinya akan menyelamatkan kehidupan kita sendiri... banyak cara yang bisa Anda lakukan setelahnya... sebelumnya, just delete, erase... si mentang-mentang dan mumpung itu... sederhana dan mudah kan??

Posted at 07:35 am by Neng Jeni
Ada (13) yang nyahut  

 
Sunday, May 03, 2009
Ngasal.....
+ Mas, sekali-sekali kamu kalo liat ibu dengan passion gitu dong...

- maksudnya?

+ ya itu, kayak kalo kamu lagi melototin PS gitu

- hmmmmm.......... *sambil ngeliat ke saya dengan makna tak jelas*
  ibu, kaulah sumber kehidupanku, kau bagaikan air mancur penuh kasih,
  ibu, kepalamu bagai matahari yang bersinar kemilau, rambutmu berkilau laksana surai
  singa, matamu bagai kelereng - jernih dan tegas, mulutmu... oh, bagai ketimun -
  segaaarrrr, tubuhmu bagai pohon Redwood di California.. eh, jangan deh, tuh pohon
  terlalu tebel soalnya, kau bagai cemara lilin - tinggi dan ramping...
 
ibu, you are as tough as mountain but a pound heavier...

+ trus apa lagi mas

- I'm out of words to describe you........

+ Sad


Posted at 07:32 pm by Neng Jeni
Ada (5) yang nyahut  

 
Monday, March 30, 2009
Terima kasih, Bumi....
Matiin listrik sejam? bener nih cuma sejam? kecil.....

Buat warga Bogor, apalagi yang di pinggiran Bogor, seperti saya ini, candle light dinner adalah hal yang biasa... nggak ada romantis-romantisnya lagi. Tapi kalau mau diambil hikmahnya, itulah saat makan malam dimana saya nggak usah susah ngumpulin anak-anak buat makan sama-sama di meja makan!

Semenjak saya pindah ke perumahan sekarang, 14 tahun lalu, mati listrik selama 2-3 jam per hari itu adalah hal biasa. Itu tidak termasuk bila ada hujan besar baik di sekitar rumah maupun di kota Bogor sana .... Bila ditanyakan ke PLN pun jawabannya sederhana, karena di perumahan itu nggak punya gardu sendiri, atau karena di sekitar perumahan itu banyak yang nyantol listrik, dari pada korslet..... dan alasan itu masih dipakai sampai sekarang... gak kreatif banget ya .....
Belakangan, mati listrik lebih dari 8 jam juga sering terjadi.
 
So, buat kami, tidak ada listrik selama satu jam itu, no big deal lah..... tinggal turunin MCB aja, malam pula, aktivitas rutin pun sudah selesai sejak tadi, hanya bapak saya yang bolak balik bertanya pada cucunya, kenapa lampu-lampu di rumah tetangga nggak ada yang mati...
Smile  Maap ya beh, lupa ngasih tau ...
Dan ternyata acara mematikan listrik itu lebih dari satu jam, karena orang yang bertugas untuk menyalakan listrik kembali (baca: bapake
) ketiduran!!!

Kepedulian saya terhadap lingkungan sudah dimulai sejak masih SD, saat saya mencicipi rasa air minum yang aneh ketika berkunjung ke rumah bude di daerah Kemayoran, kata papa, airnya agak payau, karena rumahnya dekat laut. Saat itulah parno saya timbul, saya paling takut kehilangan air bersih, bahkan saya juga nggak rela kalau anak-anak saya, dan cucu-cucu saya dan seterusnya nggak bisa menikmati air bersih.

Selain itu, hidup dengan hemat listrik dan air juga sudah dimulai sejak kecil, mungkin tujuan orang tua saya adalah untuk menghemat pengeluaran. Tapi saya ingat betul, dulu, selalu ada drum di bawah kucuran talang untuk menampung air hujan, semata-mata karena tidak ada saluran buangan air dari talang tersebut dan bila tidak ditampung akan membanjiri halaman samping rumah kami. Air di situ dipakai untuk berbagai keperluan, menyiram tanaman, cuci piring, mencelupkan kepala saat pulang sekolah di tengah hari, atau adik saya yang cukup gila menaruh beberapa ekor ikan di sana, dan dia menangis saat ikan-ikannya hilang setelah hujan besar. Kini, di rumah orang tua saya sudah ada sumur resapan. Tetangga di sekitar rumah orang tua biasa meminta air ke mereka saat sumur-sumur rumahnya mengering.

Keparnoan saya jauh berkurang, saat saya tahu kemana saya bisa menyalurkannya. Saya merasa terbantu saat saya bisa berbuat sesuatu untuk mengembalikan segala kebaikan alam. Menyampaikan kabar kepada khalayak bahwa burung banyak berjasa pada lingkungan, bahwa menanam pohon berarti menyiapkan rumah untuk burung, serangga dan satwa lainnya, bahwa memelihara satwa yang dilindungi akan mendatangkan musibah lingkungan, bahwa membuang sampah sembarangan akan mendatangkan banjir, menebang pohon secara berlebihan akan menimbulkan petaka, dll. Tapi, saya belum sepenuhnya tidak merusak alam.

Menabung air sedang saya lakukan, ada 32 lubang biopori
di halaman belakang dan depan rumah, yang diisi dengan sampah organik (yang bisa dipergunakan sebagai pupuk organik nantinya). Praktis sampah rumah tangga saya kini hanya berupa sampah plastik (kertas dan botol kaca sudah ada pemulungnya, termasuk sekolah anak-anak yang menampung barang bekas untuk keperluan pembuatan bahan penunjang belajar anak). Dan lubang-lubang itu akan bertambah di lingkungan saya dan di rumah orang-orang terdekat.

Pemakaian kipas angin dan lampu dikurangi dengan membuat jendela yang besar dan banyak. Punten ya pak RT, kalau tanpa ijinmu taman di depan rumah sudah saya tanami dengan aneka pohon buah langka, nanti hasilnya bisa dinikmati oleh seluruh warga kok.

Dan, minggu lalu saya sudah membuat lubang cahaya di kamar kecil kami, agar tidak perlu menyalakan lampu di siang hari....
 
Posted at 07:23 am by Neng Jeni
Ada (9) yang nyahut  

 
Monday, March 02, 2009
Adek
Dulu, si mas pernah nyeletuk gini ..... "adek kan anak kesayangan ibu".

ups, ini hati rasanya kayak disentil deh. saya memang sering diskusi panjang sama si mas, dan biasanya diakhiri dengan saling meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.

saya sendiri menyadari bahwa diskusi memang lebih sering dilakukan bersama si mas, tanpa bermaksud mengelak, sampai kapan pun pengalaman pertama si mas adalah juga pengalaman pertama bagi saya. apalagi si mas adalah orang yang sangat amat spontan, sering kali kata yang keluar adalah hal yang terpikirkan saat itu.

adek, sedari dulu pandai membaca situasi ini. seperti sifat anak 2,3, dst pada umumnya yang follower sang kakak, adek hampir tidak pernah mengulang "kesalahan" yang pernah dilakukan si mas. ditambah sifatnya yang tertib dan teratur, boleh dibilang pengalaman saya bersama adek mulus-mulus saja.
adek cenderung mencari jalan aman.

walaupun tidak pernah diakuinya, hampir semua kegiatan yang dilakukannya adalah meniru si mas, dan dia selalu ingin "mengalahkan" si mas dalam segala hal, mulai dari pilihan bahasa asing, kegiatan ekskul, bermain musik sampai urusan tinggi badan.

kalau si mas cenderung meledak-ledak, adek selalu cermat memilih kata, waktu dan peluang. tanpa diminta adek sering menghibur kami, walaupun sekedar menemani kala saya bermanyun ria di dapur atau sekedar mengelus dan mencium akung dan yangti. sehingga hampir semua permintaannya tak kuasa kami tolak. tanya saja pada semua
yang pernah menjadi korbannya .... manipulator sejati, tapi adek bercita-cita jadi ilmuwan ....

pagi ini, dia hanya tersenyum jaim, waktu di depan kaca saya berkata, hari ini kamu baru 14, tapi kamu sudah lebih tinggi dari ibu...



Posted at 07:30 am by Neng Jeni
Ada (5) yang nyahut  

Next Page