Ibu dari dua orang anak yang sedang tumbuh dewasa. Suka dengan burung hantu karena lucu walaupun suaranya nggak merdu.
|
 |
| |
Friday, February 06, 2009 |
Setiap memasuki bulan Februari saya selalu terkenang peristiwa bertahun silam, peristiwa yang membuat beberapa pihak kalang kabut, sementara kami terkikik geli.
Pertanyaan klasik dan membosankan "ayo dong... kapan?" hanya bisa saya balas dengan melirik ke dia sambil tersenyum, kami memang belum mapan saat itu.
sampai akhirnya suatu malam, di tengah-tengah pembicaraan konyol, dia bertanya
+ bosen gak sih ditanyain mulu? - ya gitu deh + dijadiin aja apa ya - siapa takut, kapan? + paling cepet ya tahun depan, sekarang kan udah november - ya udah, besok kita bilang ke mereka ya
No romantic proposal, lebih seperti lu jual gua beli, sapa takut?
Dan ternyata, walaupun saya telah menjadi calon menantu selama lebih dari 2 tahun, tetap saja mereka terkejut waktu kami berdua mengabarkan keputusan kami (walau, jujur, mereka tampak hepi banget, entah karena memang harapan mereka terkabul atau karena akan segera terlepas dari anaknya yang super duper ngeyelan itu). Februari dipilih karena saat itu bulan terakhir sebelum Ramadhan. Tanggal dipilih karena kami tidak punya banyak pilihan hari di mana tempat perhelatan belum dipesan di bulan itu, "sudah tanggal 6 saja, biar gampang ngingetnya, kan sekalian ulang tahun" kata mama. Kebetulan keluarga kami berdua penganut semua hari adalah baik.
Hampir semua persiapan kami tangani sendiri, kalau pun ada pihak yang paling sibuk, dialah sang juru rias, karena hanya beberapa jam menjelang akad nikah, dia baru setuju untuk menggunakan upacara adat Jawa; juga adik-adik kelasnya yang mengurus logistik perkadoan (jaman itu pernyataan "kami tidak menerima bingkisan dan karangan bunga" adalah tabu); dan mbak saya yang ngurusi konsumsi juga, lha gimana enggak, wong acara itu juga dipake untuk "reuni" teman-teman mertua saya.... in general, seru!!!
Merenda hari setelahnya adalah perjuangan. Seperti makan rujak, kadang dapat jambu yang manis, mangga yang masam, nenas dan bangkuang yang segar, pepaya yang renyah, nanti coba-coba bumbu yang manis, atau pedas atau gurih dengan tambahan kacang. Kalaupun sesekali kami tersandung atau bingung di simpang jalan, ya itulah nikmat dari rasa rujak tadi.
Kami pribadi yang berbeda, kami masih saling berusaha untuk menularkan kebiasaan baik. Pada akhirnya, saya tidak hanya cinta padanya, I really need him very much.
Selamat hari lahir sayangku, selamat hari jadi kita ....
the smile on your face, lets me know that you need me there's a truth in your eyes saying you'll never leave me the touch of your hand says you'll catch me whenever I fall .............
*aahhh, saya nggak pernah bosan dengan lagunya mas Keating ini*
Posted at 12:00 am by Neng Jeni
Permalink
Percakapan di dapur suatu malam...
si Mas : you're so beautiful .. *bersenandung sambil cuci piring*Saya: thank you, mas...M : you're welcome, bu, I am glad to do this... you're so beautiful.. its you... *nerusin nyanyi*S: I know, I am beautiful...M: ge er ih Ibu, you were beautiful, but you are the only girl in the house, of course you are the preetiest between us... hahaha...S: uuhh, sekali-sekali memuji ibu napa ...M: how could I? actually, you're dominating us...S: no no no, its just, mmmmmm......but, i've to survive among you boys M: no no no... you are dominating us, you make us fell down to your kneesS: I just try to manage you all guys...M: tuh, mesti deh, .... ibu gak pernah mau kalah kan?.. see..... 
Posted at 07:11 am by Neng Jeni
Permalink
| |
Saturday, January 17, 2009 |
Jalan-jalan yuuuk ke Pantai Ciputih
Dari beberapa pantai di Jawa Barat yang pernah saya kunjungi, Pantai Ciputih ini saya masukkan dalam kategori TOPBGT sebagai daerah tujuan berlibur, is a must lah. Tolong dicatat ya, berlibur itu artinya leyeh-leyeh, aman dari gangguan pengasong, gangguan kantor, gangguan pengunjung lain yang resek dan aman dari sisi kondisi alam. Pantai Ciputih ini, atau lebih spesifik lagi Ciputih Beach Resort, terletak di sebuah teluk kecil antara kota Sumur dan Taman Nasional Ujung Kulon. Perjalanan dari Jakarta menuju Sumur memakan waktu sekitar 4 jam. Bebas macet, kecuali sedikit rusuh ketika memasuki kota Serang. Dari Sumur menuju resort hanya berjarak kurang dari 10 km arah ke Taman Nasional, tetapi karena banyaknya kubangan raksasa di sepanjang jalannya menjadikan waktu tempuhnya mencapai 1 jam. Konon keadaaan ini sengaja dibiarkan sebagai tindakan pengamanan bagi kawasan Taman Nasional. Di sepanjang pantai Ciputih ini banyak terdapat vila-vila pribadi dan resort. Tetapi nampaknya rencana untuk menjadikan kawasan ini sebagai "tandingan" kawasan Carita-Anyer tidak terlaksana, mungkin karena jaraknya yang relatif jauh dari Jakarta. Sepi pengunjung. Jejak pembangunan kawasan yang sembrono terlihat dari banyaknya terumbu karang mati di sepanjang pantai dan beberapa dermaga yang ditinggalkan. Namun demikian, Ciputih Beach Resort benar-benar memenuhi kriteria tujuan berlibur keluarga kami. Resort ini sendiri memiliki lebih dari 30 rumah di sela-sela pohon Ketapang dan berbagai tumbuhan pantai lainnya. Bersih dan berpasir putih. Pertama kali kami berkunjung ke sana di tahun 2003, waktu seakan hilang. Jangankan sinyal telepon selular, bahkan tidak semua sinyal stasiun TV pun bisa mencapai daerah itu. Jarum jam dinding pun mundur maju sesukanya. Perfecto!. Terakhir kami berkunjung di tahun 2006, hampir semua sinyal telepon selular mencapai garis yang tertinggi, bahkan ada satu kamar yang disediakan dengan fasilitas internet. Tapi, siapa yang peduli dengan semua sinyal dan jarum bila di depan mata terpampang laut biru dengan ombak lembut menari. Ombak pecah sebelum memasuki teluk, hanya deburan kecil yang mencapai pantai, dan sesekali deburan besar saat pasang. Bermain di tengah buaian ombak amat menyenangkan. Hampir tidak terdapat batu karang di sepanjang pantainya, kecuali di ujung-ujung sisi kiri dan kanannya. Bila tak ingin berbasah ria, bisa menikmati sepoian angin dan sinar matahari yang mengintip di sela daun lebar Ketapang dari kursi-kursi malas yang berserak di pantai, bukan begitu bapake?   Sambil menunggu matahari terbenam, menjelajahi terumbu karang mati sampai ke bekas dermaga cukup mengasyikkan. Ups, ternyata di beberapa tempat binatang karang itu sudah mulai datang lagi, terutama di bagian-bagian yang selalu terendam air. Indah sekali, ada berbagai bentuk dan warna, walaupun masih sangat kecil. Beberapa jenis tripang dan ikan karang, seperti anakan kerapu dan ikan badut bisa dijumpai di situ. Gelapnya malam memunculkan sejumlah rasi bintang yang sulit terlihat di kota. Bila sabar menunggu, bukan tidak mungkin berkesempatan melihat bintang jatuh. Aiihhh, cantik kali …. Terakhir kali ke sana, hanya ada kantin pegawai resort yang beroperasi, yang hanya menyediakan minuman ringan dan makanan kecil. Tapi mereka bersedia memasakkan ikan-ikan yang kita beli dari pasar ikan Sumur. Kami lebih suka untuk tiba di sana pada siang hari dan bila kembali sebelum jam makan siang. Rumah makan Astry di Pandeglang terlalu sayang untuk dilewatkan. Otak-otak ikan, udang dan cumi bakarnya syedap syekalee. Bila dipadu dengan pengalaman bermain ombak, hmmmm…… kami ingin selalu kembali ke sana
Posted at 01:19 pm by Neng Jeni
Permalink
Seorang teman baik baru tertimpa musibah, kecelakaan di jalan raya. Sedih saya mendengarnya.... Siku tangan kirinya remuk sehingga harus dipasang skrup dan pen, paling tidak selama 1,5 tahun.
Saat sedang melaju pelan di daerah Depok, tuturnya, tiba-tiba helm pengendara motor di depannya lepas dan terbang ke arahnya, tak ayal motor yang dikendarainya pun menabrak helm tersebut. Teman tadi baru siuman saat berada di UGD sebuah rumah sakit, tak ingat bagaimana jatuhnya sehingga sikunya remuk. Saya pun tak hendak bertanya kejadian setelahnya, hanya teman tadi bersyukur sekali karena selamat, tidak menderita gegar otak dan tidak terluka di tempat lain.
Aaahhh... hanya karena kecerobohan tidak memakai helm dengan benar, orang lain jadi celaka  Tak hendak lagi saya membahas betapa kusutnya sistem perlalulintasan di sini. Hanya berharap, andaikan semua kita bisa lebih hati-hati, sopan, dan dewasa dalam berlalu lintas, mungkin kecelakaan-kecelakaan konyol seperti itu bisa dihindarkan....
Andaikan.....
Posted at 01:48 pm by Neng Jeni
Permalink
Jalan-jalan yuuuk ke Platform Paralayang, Puncak
Lokasi ini merupakan area favorit untuk mengamati jenis-jenis burung pemangsa (raptor) yang sedang bermigrasi maupun jenis raptor yang menetap di sana. Saya nggak akan bercerita panjang lebar tentang migrasi burung itu. Tapi lokasi ini memang ideal untuk memuaskan mata memandang keindahan alam Puncak. Termasuk memuaskan mata melihat rombongan raptor yang datang berbondong-bondong .. walah...
Letaknya persis di atas punggungan bukit di area Perkebunan Teh Gunung Mas, Bogor, karenanya angin di sana cukup keras, cukup untuk membuat masuk angin bagi mereka yang tak berjaket . Dan cukup menghitamkan mereka yang tak bertopi, berkemeja lengan panjang atau yang tidak memakai tabir surya.
O ya, jalan masuk menuju area ini ada 2, bagi yang menggunakan kendaraan umum, bisa berhenti di belokan tapal kuda, persis di bawah Mesjid Atta Awun, ada loketnya kok, trus silahkan ber-teawalk ria sampai ke lokasi platform. Buat yang membawa kendaraan pribadi, setelah rumah makan Rindu Alam, Puncak, pada saat jalannya berbelok ke kiri (sebelum-sebelumnya selalu belok ke kanan ), di sebelah kanan ada papan reklame M-150 (masih ada nggak ya?), nah belok saja ke sana, terus saja sampai ke area parkir.
Karena letaknya yang terbuka dan anginnya yang cukup keras, sejak dahulu area ini menjadi tempat "take off" mereka yang berlatih gantole atau paralayang. Walau demikian, mereka tetap harus mewaspadai arah dan kecepatan angin saat itu sebelum mulai berlatih. Kalau nekat? Bukan hanya satu dua orang yang telah menjadi korban karena mengabaikan angin tersebut.
Dengan membayar sejumlah tertentu, olah raga paralayang ini bahkan juga bisa dinikmati oleh umum. Caranya? Ya tandem dengan instrukturnya. Boncengan gitu loh..... Kalau para atlet paralayang bisa mengudara selama dan mengikuti (arus panas .. persis menggunakan metoda terbang si raptor tadi ...tuh kan, cerita burung lagi...), nah kalau orang umum hanya bisa menikmati terbang ria ini selama 15 menit, mulai dari thermal take off di platform ini dan landing di kebun teh di Desa Tugu Selatan. Dari sana, pasukan ojek siap mengantar kita kembali ke area platform.
Untuk bisa ikut tandem, kita harus bersiap memakai sepatu, celana panjang dan kemeja lengan panjang, ya siap-siap lah, namanya juga mendarat di kebun teh, bayangkan lecet-lecetnya kalau nggak pake kemeja dan celana panjang. Bisa untuk semua umur kah? Iya dan tidak, karena berat badan lebih menentukan bisa enggaknya ikut tandem ini, tapi pastinya harus siap mental. Tentunya fisik juga harus sehat.
Tiga tahun lalu si Mas asyik berparalayang ria, selamat tanpa lecet di tempat mendarat, hanya Opa David, sang instruktur, yang berakhir dengan bentol-bentol di seluruh badan. Salahnya, mendarat kok pas di atas sarang ulet bulu ... hiiiyyyy......
PS. Kegiatan tandem paralayang ini nggak ada asuransinya lho .... siapkah Anda???
Posted at 07:30 am by Neng Jeni
Permalink
|