Ibu dari 3 lelaki manja. Suka dengan burung hantu karena lucu walaupun suaranya nggak merdu.




   

<< June 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Berkunjung ke :

Adri
Atta
Bangsari
BananaTalk
David & Nana
Dinda
Fitri Mohan
Ghilman
Jumadi Sumuk
Kabar Burung
Kisah Merahitam
Luigi
Mariskova
Nananias
Mas Hedi
Mas Yoyok
Mbak Eny
Mbilung
Nabilla.ra
Paman Tyo
Pecas Ndahe
Putri
Rara
Tito
Venus

Me and my family

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from jeni_shannaz. Make your own badge here.

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


rss feed

Saturday, March 31, 2012
Mengejar Raptor Sampai ke Negeri Siam

Pada banyak pengamat burung, pesona jenis burung pemangsa (raptor) sulit sekali dihindari. Asman Adi Purwanto sampai rela meninggalkan pekerjaan tetapnya, demi memenuhi undangan untuk mengamati migrasi burung-burung pemangsa ini selama 3 bulan di Radar Hill, Thailand. Lokasi yang berketinggian 195 meter di atas permukaan laut, di antara Teluk Thailand (sebelah Timur) dan perbatasan Thailand dengan Myanmar (di sebelah barat), memang ideal sebagai tempat pengamatan, karena tempatnya terbuka, dikelilingi oleh perkebunan karet dan kelapa sawit, dan lokasi penempatan radar untuk keperluan militer.

Pengamatan dilakukan sejak tanggal 10 September-12 Nopember 2011, setiap hari jam 08.00 - 17.00, oleh Asman bersama dengan 5 orang pengamat burung lainnya dari Thailand. Dari pengamatan burung yang bermigrasi yang melintas di Radar Hill, mereka menemukan:

·        24 jenis raptor diurnal di mana 4 jenis di antaranya masuk kategori Rare Migrant (Eurasian Sparrowhawk Accipiter nisus, Steppe Eagle Aquila heliaca, Imperial Eagle Aquila nipalensis dan Amur Falcon Falco amurensis).

·        Beberapa jenis baru yang tercatat dan teramati di Radar Hill sejak tahun 2008, yaitu Jerdons Baza Aviceda jerdoni (78 individu), Crested Serpent Eagle Spilornis cheela (167 individu, tahun 2007 ditemukan di PPS Cikananga, Sukabumi), dan Shikra Accipiter badius.

·        21 jenis non raptor, di mana ada satu jenis yang Rare Migrant, yaitu White-throated Needletail Hirundapus caudacutus. Jenis non raptor lainnya seperti Seriwang asia, Sepah kelabu, Srigunting kelabu, Cucak kuning, Kirik-kirik laut, Sikatan bubik, Bentet coklat, Murai-batu tarung, Cikrak mahkota.

Total hasil pengamatan selama 3 bulan tercatat ada 161.337 individu dari 24 jenis raptor migran dan 7. 089 individu dari 21 jenis non raptor. Burung-burung migrasi tersebut terbanyak teramati pada pukul 09.00-10.00 dan antara pukul 14-15.00.

Ada pun jenis-jenis yang mendominasi migrasi adalah Black Baza Aviceda leuphotes (70.390 individu = 43,6%, sangat jarang ditemukan di Indonesia), Oriental Honey-buzzard Pernis orientalis (32.423 individu = 20,1%, catatan perjumpaan di Jawa-Bali selama tahun 2008-2010 hanya 9.024 individu saja), Chinese Goshawk Accipiter soloensis (42.680 individu = 26,5%, catatan perjumpaan di Jawa-Bali selama tahun 2008-2010 hanya 43.612 individu saja), Japanese Sparrowhawk Accipiter gularis (2.926 individu = 1,81%, catatan perjumpaan di Jawa-Bali selama tahun 2008-2010 hanya 2.297 individu saja), Shikra Accipiter badius (1.620 individu = 1%, di Indonesia diketahui ada breeding resident di Sumatera) dan Grey-faced Buzzard Butastur indicus (10.454 individu = 6,48%, tercatat ada 6.004 individu di Sangihe tahun 2009).

Jenis-jenis raptor yang bermigrasi dengan yang menetap (resident) mudah dibedakan, karena jenis yang bermigrasi biasanya terbang sangat tinggi, dan mereka biasanya sangat sensitif dengan kehadiran manusia. Fenomena ini juga terjadi di kawasan pengamatan migrasi raptor di Puncak, Jawa Barat. Di tahun-tahun belakangan ini, sejalan dengan makin padatnya area di sana, raptor yang terbang makin jauh dan tinggi sehingga sulit diamati. Nanang Khairul Hadi dari tim UKF IPB melaporkan dari hasil 4 kali pengamatan di Puncak tahun 2011 jumlah burung yang bermigrasi sangat sedikit, dengan total individu yang teramati sampai pertengahan November sekitar 1.000 ekor, di mana jumlah yang terbanyak adalah Accipiter soloensis. Sedangkan dari 7 kali pengamatan di kampus IPB Dramaga ditemukan sekitar 300 ekor, mereka datang dari arah yang berbeda (Ciampea).

Sejauh yang diketahui Asman, jalur migrasi burung ini banyak dipengaruhi oleh cuaca, jenis vegetasi tidak terlalu berpengaruh, asal ada tutupan hutannya tidak harus hutan primer. Kebutuhan vegetasi ini antara lain sebagai tempat beristirahat (roosting site) dan tempat mencari makan. Di P. Rupat yang hutannya kini hancur, sejak tahun 2009 jumlah burung migrasi yang lewat mengalami penurunan. Di Kalimantan jenis Oriental Honey-buzzard melalui jalur yang banyak serangganya/ sarang lebah. Kebanyakan burung bermigrasi di siang hari, tetapi jenis Elang tiram bermigrasi di malam hari.

Di Thailand sendiri, migrasi raptor ini banyak menarik perhatian orang, sehingga dibuat Festival migrasi burung yang rutin diadakah setiap tahun hasil kerja sama LSM dan pemerintah, yang didukung sepenuhnya oleh Dinas Pariwisata Provinsi, antara lain dengan menyediakan berbagai papan informasi di beberapa Service Area.

Bahkan di Thailand sudah ada satu desa yang turut menjaga elang-elang tersebut, walaupun dengan konsekwensi ada sebagian lahan padi mereka yang rusak. Pada awalnya pun di tempat tersebut tingkat perburuannya tinggi , dan sulit sekali melihat burung. Akhirnya para pengamat berusaha meyakinkan penduduk bahwa burung bisa mendatangkan uang (penginapan, rumah makan), dan ternyata hasil yang didapat lebih banyak dari jumlah padi yang hilang.

Beberapa teman di Indonesia juga berkeinginan agar fenomena migrasi burung ini bisa disebarluaskan, agar makin banyak orang yang bisa turut menikmati. Namun masih menimbang antara manfaat konservasi versus bisnis. Tetapi akan lebih baik lagi bila info-info seperti itu bisa disebarluaskan ke publik melalui berbagai media, sekaligus mendidik masyarakat tentang fenomena alam ini.

Di akhir presentasi, Asman memberikan tips waktu-waktu terbaik untuk mengamati migrasi raptor ini di Radar Hill. Bila ingin melihat Chinese Goshawk, datanglah di minggu ke-3 September, Oriental Honey-buzzard di minggu ke-1 Oktober, Grey-faced Buzzard di minggu ke-2 Oktober dan Black Baza di minggu ke 3-4 Oktober. [jeni shannaz & irma dana]


Obrolan Kamis Sore, 22 Desember 2011

Nara sumber : Asman Adi Purwanto (Raptor Indonesia)

                     asman_adi@yahoo.com



Posted at 02:50 pm by Neng Jeni
Ada (4) yang komen  

Friday, March 30, 2012
Pertambangan dan Nasib Lingkungan Indonesia

Mai, panggilan akrab Siti Maimunah, sudah 11 tahun terakhir malang melintang di dunia pertambangan dan bergiat di Jaringan Advokasi Tambang (JATAM). Saat ini Mai juga menjadi koordinator Civil Society Forum (CSF).

Hadir dan berbicara panjang lebar di Obrolan Sabtu Seru, tanggal 11 Februari 2012, mengenai pertambangan serta dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan Indonesia akibat eksploitasi yang jor-joran oleh perusahaan tambang serta maraknya pemberian ijin.

Bicara soal tambang tak lepas dari soal perijinan dan undang-undang yang mengaturnya, Indonesia telah memiliki UU Pertambangan Umum sejak tahun 1967. Setelah kontrak dengan Freeport ditandatangani, UU Indonesia banyak memberikan kemudahan pada perusahaan asing.

Selain kemudahan yang diberikan pada perusahaan tambang asing, juga terjadi tumpang tindih dalam pemberian ijin kepada perusahaan tambang. Tumpang tindih konsesi bukan hanya dengan bidang kehutanan, juga antara perusahaan tambang itu sendiri.

“Dulu ijin dikeluarkan oleh pemerintah pusat, sekarang pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten) bisa mengeluarkan ijin untuk konsesi tambang. Di Kalimantan (bagian Indonesia) telah diterbitkan lebih dari 2.475 ijin tambang. Sedangkan di Kalimantan Timur, yang luasnya 19,88 juta ha memiliki konsesi sektoral seluas 21,7 juta ha. Ada 1.271 ijin tambang di sana mencakup luasan 4,4 juta ha, sekitar 22,1 % dari luas provinsi. Separuh ijin di Kalimantan Timur ada di Kabupaten Kutai Kartanegara. Di Samboja ada 90 ijin perusahaan tambang. Kini, 71% luas Kota Samarinda adalah kawasan tambang,” lanjut Mai, menyinggung pemberian ijin oleh pemerintah daerah. Tak heran Samarinda kini seringkali dilanda banjir.

Mai lalu memunculkan peta tutupan lahan hutan di Papua, kemudian ditumpangtindihkan dengan penyebaran Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) , HTI, Perkebunan dan Pertambangan. Hasilnya,..... tak banyak lagi hutan alam yang tersisa di sana.

“Banyak anggota TNI dikirimkan ke Papua, bukan untuk menjaga keamanan Papua, tapi untuk menjaga investasi perusahaan tambang,” tambah Mai menyinggung konflik di Papua. Investasi perusahaan tambang asing yang makin merajalela di wilayah Indonesia, juga peluang korupsi. Karena ijin tersebut bukan jadi alat regulasi, tapi menjadi alat transaksi.

Mai juga menyinggung bahwa sebuah Negara sesungguhnya terdiri atas pemerintah, wilayah dan warga negara. Wilayah bersama sumber daya alam (SDA) di dalamnya yang merupakan ruang dan sumber hidup warga negara, telah bergeser menjadi paradigma sempit dipandang sebagai komoditas penghasil devisa. Akibatnya, tiap periode pemerintah berlomba melakukan “keruk habis, jual cepat” SDA, lewat kebijakan instan dan praktek yang tidak dikontrol. Akibatnya konflik dan korupsi menjadi sebuah keniscayaan di sekitar kawasan kaya sumber daya alam, khususnya pertambangan.

Negara-negara yang bergantung pada ekspor minyak dan mineral cenderung memiliki tingkat korupsi sangat tinggi, pemerintahan yang otoriter, tingkat kemiskinan dan kematian anak tinggi, ketidakadilan pemerataan ekonomi serta rentan terhadap kerapuhan ekonomi (Extractive Industry and the Poor, 2001, Oxfam Amerika).

Tambang adalah kegiatan rakus lahan, alat-alat negara dimobilisasi untuk pembebasan lahan. Penggusuran lahan, pengusiran hingga “relokasi” terjadi hampir di semua lokasi tambang. Contohnya, kasus pembakaran 500 lebih pondok Pangerebo di Kawasan PT IMK Kalteng; pembebasan lahan oleh British Petroleum di Kampung Tanah Merah Teluk Bintuni Papua dihargai Rp15,- per meter, setelah konflik harganya baru dinaikan menjadi Rp 50,- per meter.

Keadaan di atas diperburuk dengan adanya dokumen AMDAL yang kualitasnya tidak memadai. Walaupun sudah ada 9.000 dokumen AMDAL yang disetujui oleh pemerintah, namun tidak menjamin mengurangi kerusakan lingkungan. Dari 474 kabupaten/kota di Indonesia pada tahun 2008, baru terdapat 119 Komisi Penilai AMDAL, itupun yang berfungsi hanya 50% saja. Sedangkan sekitar 75% mutu dokumen AMDAL berkualitas buruk hingga sangat buruk (Kementerian Lingkungan Hidup, 2008).

Data lain yang menarik adalah, “Dari sekitar 8.000 ijin pertambangan, 75%nya tumpang tindih dengan peruntukan lain”, (Hatta Rajasa, Mei 2011).   “Hingga Februari 2012 telah menjadi 9.700 perijinan”, (peneliti Demos 2012).

Sifat pertambangan itu sendiri adalah, 1. tak terbarukan; 2. berumur pendek; 3. berdaya rusak (rakus lahan, air energi, limbah yang jumlahnya masif); 4. Orientasi Ekspor

Sejauh ini praktek kegiatan tambang, banyak membawa dampak negatif bagi lingkungan dan tidak ada pengawasan dari pemerintah. Kerugian yang ditimbulkan mulai dari banjir, penghancuran hutan, pelenyapan lahan pangan, sampai pencemaran di badan-badan air. Bayangkan, untuk menghasilkan 1 gram emas maka akan menghabiskan :

  • Lebih dari 100 liter air
  •  2,1 ton limbah batuan dan tailing
  •  5,8 kg emisi beracun: 260 gr timbal, 139 gr arsen, 6,1 gr merkuri & 3 gr sianida
  • 10% energi dunia digunakan industri tambang.

Pengawasan juga sangat lemah saat penutupan tambang dan pelaksanaan reklamasi dilakukan secara asalan. Tidak ada jaminan pemulihan sosial dan lingkungan atas lahan bekas penambangan, dan meninggalkan “danau-danau” buatan terbuka tanpa pengamanan yang tak jarang memakan korban jiwa.

 

Banyak daerah di Indonesia yang kaya sumber daya alam tambang, tetapi masyarakat di daerah tersebut hidupnya jauh dari cukup. Sebagai contoh di Kalimantan. Lebih dari 200 juta ton batubara yang dikeruk dari bumi Kalimantan, hanya 2% nya saja yang digunakan penduduk Kalimantan. 20-30% di antaranya untuk pasokan di Sumatera dan Jawa, sisanya di ekspor ke Jepang, Cina, Amerika dan Eropa.

 

Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat sipil?

  • Melaporkan penggusuran lahan
  • Melaporkan pencemaran dan perusakan lingkungan serta terlibat dalam tim pemerintah
  • Melaporkan tumpang tindih lahan
  • Mengawal perubahan PP2/2008 menjadi UU No. 19/2004
  • Memperkarakan ke Mahkamah Konstitusi
  • Memfasilitasi dialog-dialog
  • Lomba investigasi korupsi

Apakah hasil di atas cukup efektif? “Belum, kalau hanya segelintir orang saja yang melakukan.... tapi kalau seluruh kelompok masyarakat peduli dan mau bergerak bersama, bukan mustahil akan ada perubahan yang signifikan dari praktek pertambangan ini,” pungkas Mai menutup acara Obrolan Sabtu Seru. [irma dana & jeni shannaz]

 

 

Obrolan Sabtu Seru, 11 Februari 2012

Nara sumber: Siti Maimunah (Jaringan Advokasi Tambang)

                      mai@jatam.org

Posted at 11:10 am by Neng Jeni
Ada (6) yang komen  

Friday, July 09, 2010
Rasa Apa Ini....

Belum.... belum selesai, emosi saya masih ajrut-ajrutan sampai hari ini....

Alhamdulillah, si Mas akhirnya mendapat tempat di PTN yang diidam-idamkannya. Senang dan bangganya masih saya rasakan hingga kini. Saya merasakan betul kerasnya upaya si Mas sejak awal tahun ini, mulai dari persiapan UN hingga melalui beberapa ujian untuk memasuki universitas. Mas memang bukan siswa unggulan di sekolah bahkan sempat mendapat julukan "si pembuat onar". Tetapi nilai UN dan keberhasilannya mendapat PTN membuat kebanggaan tersendiri buat Mas dan bagi orang-orang terdekat si Mas, termasuk wali kelasnya di kelas 11 dan 12 yang menaruh kepercayaan penuh dan banyak memberikan dorongan moral bagi si Mas. Buat si Mas, ini adalah pembuktian bahwa dia tidak seburuk yang dianggap banyak orang.

Masalahnya sekarang ada pada saya...

Beberapa hari setelah pengumuman PTN tersebut, Mas dan teman-temannya sudah mendapat tempat kost. "Itu tempat kost buat laki-laki bu, rumah baru, bersih, ada kamar mandi di dalam, cuma 10 menit dari kampus, bapak-bapak yang jaga galak."

Hal pertama yang terpikirkan saat itu adalah, yaaahhhh .. makin kosong deh ni rumah....
Sad  Misalnya pun si Mas melajo dari Bogor, itu bukan hal yang sulit dilakukan sehari-hari. Keputusannya untuk mandiri itu perlu saya hargai dan banggakan. Mas pun sepertinya senang sekali menyambut kehidupan barunya sebagai mahasiswa. Semangatnya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai mahasiswa baru, membuat daftar kebutuhan kost sampai rincian kebutuhan dan pengeluaran bulanan. Bahkan Mas juga sudah menyurvei lingkungan sekitar tempat kostnya.

Ada rasa bangga karena si Mas terlihat mulai menata dirinya, tapi saya tetap tidak bisa memungkiri adanya ancaman akan rasa kehilangan, dan membuat saya tidak nyaman. Sepertinya saya ingin memanfaatkan setiap waktu yang tersisa ini untuk membuat seolah-olah saya masih dibutuhkan, saya masih berperan... saya masih belum sepenuhnya siap melepaskan sebagian tanggung jawab saya kepada si Mas.

Beberapa waktu lalu, saya pernah mendengar percakapan si Mas sama Adek,
"Mas, si Ibu makin bawel aja ya belakangan ini, kamu sih enak bentar lagi kost, nah aku, masih 3 tahun lagi. Ntar kamu tiap minggu pulang kan, Mas?"
"Lha iyalah, aku tiap minggu mo makan enak gak pake bayar. Sekalian ambil duit bulanan, hahaha.."
"Trus aku kalo di rumah sendirian ngapain?"
"Ya ngapain aja, tuh main komputer sepuasnya, gak ada yang gangguin kan. Les musik lagi kan bisa"
"Trus ngapain lagi, masa cuma berdua ama ibu aja?"
"Yeee, nikmatin aja lagi, ibu tuh biar bawel juga tapi semua urusan jadi beres kan."
"Oiya, ntar aku ajakin ibu inspeksi mendadak ke tempat kost Mas!"
"Sok tau, emang kamu tau tempat kost Mas di mana."

Duh, rupanya Adek pun mengalami hal yang sama. Mereka berdua memang sangat dekat. Memiliki kesukaan yang sama dan teman-teman main yang sama. Suatu ketika, selama seminggu Adek pernah kemrungsung gak jelas, bikin orang serumah bete. Penyebabnya ya itu, bete karena bakal ditinggal Masnya.

Mungkin ini kualat saya kepada orang tua, karena waktu kuliah dulu juga sering nggak pulang dan lupa berkabar kepada mereka, walau saat itu kota tempat saya kuliah adalah yang paling dekat dengan rumah dibandingkan dengan kakak dan adik saya.

Mungkin ini juga rasa yang sama, ketika mama dan papa dulu "melepaskan" anak-anaknya satu per satu.

Entah lah...

Posted at 04:15 pm by Neng Jeni
Ada (8) yang komen  

Monday, April 26, 2010
Ujian yang Memusingkan

si Mas lulus Ujian Nasional (UN) SMA hari ini, itu sudah kami perkirakan, juga karena si Mas yakin dia bisa mengerjakannya dengan baik. Perkara lulus dengan nilai seberapa pun pasti kami syukuri.

Entah ini hanya kebijakan dari sekolahnya atau kebijakan dari Diknas, bahwa hasil UN ini harus diambil oleh orang tua. Dan pagi tadi, dalam perjalanan ke sekolah dan menunggu hasil UNnya sudah sukses membuat saya kemringet ndak keruan.

Sejak Januari kemarin memang emosi saya seperti roller-coaster, mungkin ini juga yang dialami oleh para orang tua yang anaknya sedang menghadapi UN. Mulai dari berita seputar jadi tidaknya pelaksanaan UN, jadwal UN yang mundur maju, persiapan menjelang UN, sampai jadwal ujian di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta yang sudah dilakukan, bahkan sebelum UN itu sendiri berlangsung.

Rasanya kok tidak adil kalau saya memperlihatkan emosi ini ke si Mas, mengingat si Mas sendiri yang akan menjalani UN pastinya lebih stress dari kami orang tuanya. Mungkin pihak sekolah juga mengalami hal yang sama.

Selama semester ini, para siswa menghadapi 2 kali try-out yang diadakan oleh Diknas dan beberapa test yang diadakan oleh pihak sekolah. Panik? pastinya.... walaupun di sekolah si Mas para guru tidak panik karena jadwal UN dimajukan, tapi banyak sekolah lain yg harus ngebut di saat-saat terakhir untuk mengejar materi ajar yang belum terselesaikan.

Apakah try-out itu yang tujuannya untuk mengenalkan siswa akan tata cara pelaksanaan UN sesungguhnya, sekaligus membiasakan diri dengan format soal dalam ujian itu berguna? Sepertinya hanya menambah tingkat stress siswa. "Bu, tadi masa lembar jawaban komputer temenku luntur ke tangannya", "Bu, masa ada beberapa nama temenku yang berubah, bahkan ada nama orang yang nggak ada di sekolahku, "Bu, nilai try-out ku kalo pake kunci jawaban dari Diknas, nilainya lebih rendah 14 poin dari kunci jawaban yang dibikin ama guruku", "Bu, tadi ada beberapa soal yang nggak ada jawabannya", "Bu, tadi waktu materi listening di mata pelajaran B. Inggris, orang yang ngomong kayak kumur-kumur, guruku juga gak ngerti tu orang ngomong apa".

Itu sebagian komentarnya si Mas setelah menjalani try-out itu. Rasanya tidak terlalu berlebih bila banyak orang tua yang menentang pelaksanaan UN ini. Banyak faktor teknis pelaksanaan UN yang memengaruhi hasil UN itu, dan semua itu di luar kuasa siswa, pengajar maupun sekolah.

Menyedihkan sekali, bila beberapa hari lalu Bapak Menteri Pendidikan kita mengomentari tingginya tingkat ketidaklulusan di DIY sebagai meningkatnya nilai kejujuran di sana. Hellow?????  Shocked Mungkin sudah tidak ada lagi putra Beliau yang masih duduk di sekolah menengah, sehingga beliau buta tuli dalam pelaksanaan UN ini.

Suatu hari lalu, si Mas juga pernah bercerita bahwa ada 2 orang temannya seangkatannya sudah lulus SMA, bahkan satu di antaranya sudah kuliah. Kedua temannya tersebut memilih untuk berhenti dari sekolah formal pada saat kenaikan kelas tahun lalu dan mengikuti program home schooling, dan mereka lulus ujian Paket C di tahun lalu juga.

Selama semester ini pula, banyak perguruan tinggi negeri dan swasta yang telah melaksanakan ujian masuk secara mandiri dan bersama-sama. Mas dan beberapa orang temannya bahkan sudah mendapatkan tempat di perguruan tinggi tersebut.

Sampai saat ini saya masih tidak bisa mengerti, apa gunanya UN tersebut? Toh, semua perguruan tinggi tersebut tidak memerlukan nilai UN pada saat menseleksi calon mahasiswanya.  Mereka juga tidak melihat dari sekolah mana mereka berasal. Mereka hanya memerlukan ijasah kelulusan saat pendaftaran ulang. Banyak perguruan tinggi di luar negeri bahkan tidak memerlukan ijasah kelulusan tersebut, nilai raport dan nilai ujian masuk sudah cukup menjadi pegangan bagi mereka.

Saya sedikit menyesal karena tidak memahami hal terkait UN sejak awal. Bila tahu, pasti saya tidak akan menambah beban si Mas dengan menyuruhnya menyelesaikan pendidikan sampai tahun terakhir. Cukup ambil ujian Paket C.

Benar nilai ujian akhir adalah salah satu penilaian tingkat pemahaman siswa akan materi ajar yang sudah diberikan, tapi apakah mesti dengan melalui UN? Apa gunanya status disamakan, bila sekolah tidak diijinkan melakukan ujian sendiri. Apa benar hasil UN ini merupakan penanda bahwa siswa siap memasuki pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, lalu mengapa perguruan tinggi mengadakan ujian tersendiri yang bisa dipastikan soal-soalnya jauh berbeda dengan soal-soal yang biasa diujikan pada tingkat SMA?

Ah, saya masih harus menghadapi proses ini kembali 3 tahun lagi saat Adek di SMA, atau mungkin saat itu juga saya, bapake dan Adek cukup mantap dengan memilih tidak mengikuti UN? Entahlah..

Akhirnya, hari ini saya merasa bungah sekali, mengingat kondisi si Mas yang on and off, untuk kedua kalinya, dia bisa membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak selemah yang dikiranya.

Selamat Mas!! Masih ada beberapa tahap lagi ke depan.... go for it!!



Posted at 01:46 pm by Neng Jeni
Ada (10) yang komen  

Friday, January 15, 2010
Bete berlipat

Pagi ini bete berlipat...

sudah dari senin kemarin, perjalanan pergi pulang kantor selalu diwarnai macet... pamer paha ...
lha, gimana nggak patah harapan, cuma gara-gara jalan sepotong, iyah sepotong, gak lebih dari 20 m lah yang bolong-bolong dan ikal bergelombang, walhasil bisa macet berkilo panjangnya.... jalan alternatif di pagi hari, sama aja ceritanya ..... huh, pada ke mana sih ni orang-orang PU, mbok ya kalo kerja yang bener, jangan tambal sulam gitu, pake bahan yang bermutu, kan mestinya dananya ada, atau ini memang bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan ya, biar ada proyek terus...... itu bete pertama dan ke dua

bete ke tiga, tau dong orang kita, macet di pagi hari bikin semua jadi panik dan kehilangan akal sehat. karena semua gak mau terlambat, maka jadilah ajang saling serobot di jalanan, gak peduli ama orang lain, yang penting dirinya bisa 'maju'. trotoar dipenuhi motor, kaca spion saya bolak-balik kesenggol motor, angkot ato bis yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan buat naik turunin penumpang, ulah "pak ogah" yang membolehkan mobil n motor memutar bukan di tempat yang seharusnya, dan aneka bunyi klakson... gak usah ditanya deh soal asap kendaraan, biar jendela udah ditutup rasanya tuh asap masih masuk juga...

bete ke empat, sebelum area macet itu, jauh di belakang ada ambulance yang udah sibuk nguing-nguing. perlahan, tau-tau tuh ambulance (milik tentara) udah ada tepat di belakang saya, mo minggir ke kiri gak bisa-bisa terus, ini motor-motor pada nempel rapet di sisi kiri mobil. kebayang kan rasanya ngantri begitu disertai bunyi nguing-nguing ambulance dan rasa amat bersalah karena gak bisa minggir. antrian segitu rasanya jadi berkali lipat panjangnya, bunyi nguing-nguing serasa nempel di telinga. lha kalo orang di dalem ambulance itu sampe kenapa2 karena ada mobil goblok di depannya yang gak mau minggir, gimana? sesekali sempat liat ke belakang juga, tapi kok tuh ambulance terlihat kosong ya dan supir serta penumpang di sebelahnya terlihat santai... anyway, terbebas juga akhirnya dari kemacetan itu, dan lega bisa kasih jalan buat tuh ambulance.

bete terakhir, gak jauh dari area kemacetan itu, si ambulance berjalan memelan dan gak lebih dari 40km/jam (iyah, saya berada di belakangnya ...), lalu mematikan sirenenya, gak lama dia belok masuk ke jalan kecil.....lho? jadi, maksudnya tadi pake sirene apa ya? karena situ tentara? ato karena mumpung situ pake ambulance jadi kudu nyalain sirene? oh, maaf maaf maaf, gak boleh berpikiran negatif ya.... mungkin juga orang sakit di dalamnya udah keburu dipanggil Tuhan, gara-gara tadi ada mobil goblok di depannya yang gak mau minggir, sehingga terlambat mendapat pertolongan, makanya si supir ambulance merasa gak perlu lagi nyalain sirene lagi, gitu?

oh, endonesahku......

Posted at 09:53 am by Neng Jeni
Ada (12) yang komen  

Wednesday, November 11, 2009
Mas 17

Tadi malam, si Mas tegas-tegas menolak segala tawaran saya untuk memperingati hari jadinya kali ini, mulai dari syukuran di keluarga inti, sekedar bawa panganan kecil untuk teman sekelasnya sampai membuat SIM.

Entah mungkin karena terbawa kebiasaan, rasa saya kok semua anak pasti ingin sesuatu yang istimewa di hari jadinya kali ini.... sesuatu yang bisa dikenang sepanjang hidupnya.

Tidak demikian halnya dengan si Mas, katanya, dia cukup senang dengan menerima semua perhatian dari keluarga dan teman-temannya.

"Sudahlah bu, mendingan uangnya disimpen aja, ibu pasti banyak keperluan untuk persiapan aku kuliah tahun depan ..."

Ah, Mas, kamu bikin hati dan air mata ini jadi meleleh. Selamat hari jadi Mas, segala doa yang terbaik buatmu .... Nampaknya ibu yang harus belajar banyak darimu ....




Posted at 12:17 am by Neng Jeni
Ada (7) yang komen  

Next Page