Ibu dari 3 lelaki manja. Suka dengan burung hantu karena lucu walaupun suaranya nggak merdu.




   

<< June 2017 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Berkunjung ke :

Adri
Atta
Bangsari
BananaTalk
David & Nana
Dinda
Fitri Mohan
Ghilman
Jumadi Sumuk
Kabar Burung
Kisah Merahitam
Luigi
Mariskova
Nananias
Mas Hedi
Mas Yoyok
Mbak Eny
Mbilung
Nabilla.ra
Paman Tyo
Pecas Ndahe
Putri
Rara
Tito
Venus

Me and my family

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from jeni_shannaz. Make your own badge here.

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


rss feed

Monday, March 30, 2009
Terima kasih, Bumi....

Matiin listrik sejam? bener nih cuma sejam? kecil.....

Buat warga Bogor, apalagi yang di pinggiran Bogor, seperti saya ini, candle light dinner adalah hal yang biasa... nggak ada romantis-romantisnya lagi. Tapi kalau mau diambil hikmahnya, itulah saat makan malam dimana saya nggak usah susah ngumpulin anak-anak buat makan sama-sama di meja makan!

Semenjak saya pindah ke perumahan sekarang, 14 tahun lalu, mati listrik selama 2-3 jam per hari itu adalah hal biasa. Itu tidak termasuk bila ada hujan besar baik di sekitar rumah maupun di kota Bogor sana .... Bila ditanyakan ke PLN pun jawabannya sederhana, karena di perumahan itu nggak punya gardu sendiri, atau karena di sekitar perumahan itu banyak yang nyantol listrik, dari pada korslet..... dan alasan itu masih dipakai sampai sekarang... gak kreatif banget ya .....
Belakangan, mati listrik lebih dari 8 jam juga sering terjadi.
 
So, buat kami, tidak ada listrik selama satu jam itu, no big deal lah..... tinggal turunin MCB aja, malam pula, aktivitas rutin pun sudah selesai sejak tadi, hanya bapak saya yang bolak balik bertanya pada cucunya, kenapa lampu-lampu di rumah tetangga nggak ada yang mati...
Smile  Maap ya beh, lupa ngasih tau ...
Dan ternyata acara mematikan listrik itu lebih dari satu jam, karena orang yang bertugas untuk menyalakan listrik kembali (baca: bapake
) ketiduran!!!

Kepedulian saya terhadap lingkungan sudah dimulai sejak masih SD, saat saya mencicipi rasa air minum yang aneh ketika berkunjung ke rumah bude di daerah Kemayoran, kata papa, airnya agak payau, karena rumahnya dekat laut. Saat itulah parno saya timbul, saya paling takut kehilangan air bersih, bahkan saya juga nggak rela kalau anak-anak saya, dan cucu-cucu saya dan seterusnya nggak bisa menikmati air bersih.

Selain itu, hidup dengan hemat listrik dan air juga sudah dimulai sejak kecil, mungkin tujuan orang tua saya adalah untuk menghemat pengeluaran. Tapi saya ingat betul, dulu, selalu ada drum di bawah kucuran talang untuk menampung air hujan, semata-mata karena tidak ada saluran buangan air dari talang tersebut dan bila tidak ditampung akan membanjiri halaman samping rumah kami. Air di situ dipakai untuk berbagai keperluan, menyiram tanaman, cuci piring, mencelupkan kepala saat pulang sekolah di tengah hari, atau adik saya yang cukup gila menaruh beberapa ekor ikan di sana, dan dia menangis saat ikan-ikannya hilang setelah hujan besar. Kini, di rumah orang tua saya sudah ada sumur resapan. Tetangga di sekitar rumah orang tua biasa meminta air ke mereka saat sumur-sumur rumahnya mengering.

Keparnoan saya jauh berkurang, saat saya tahu kemana saya bisa menyalurkannya. Saya merasa terbantu saat saya bisa berbuat sesuatu untuk mengembalikan segala kebaikan alam. Menyampaikan kabar kepada khalayak bahwa burung banyak berjasa pada lingkungan, bahwa menanam pohon berarti menyiapkan rumah untuk burung, serangga dan satwa lainnya, bahwa memelihara satwa yang dilindungi akan mendatangkan musibah lingkungan, bahwa membuang sampah sembarangan akan mendatangkan banjir, menebang pohon secara berlebihan akan menimbulkan petaka, dll. Tapi, saya belum sepenuhnya tidak merusak alam.

Menabung air sedang saya lakukan, ada 32 lubang biopori
di halaman belakang dan depan rumah, yang diisi dengan sampah organik (yang bisa dipergunakan sebagai pupuk organik nantinya). Praktis sampah rumah tangga saya kini hanya berupa sampah plastik (kertas dan botol kaca sudah ada pemulungnya, termasuk sekolah anak-anak yang menampung barang bekas untuk keperluan pembuatan bahan penunjang belajar anak). Dan lubang-lubang itu akan bertambah di lingkungan saya dan di rumah orang-orang terdekat.

Pemakaian kipas angin dan lampu dikurangi dengan membuat jendela yang besar dan banyak. Punten ya pak RT, kalau tanpa ijinmu taman di depan rumah sudah saya tanami dengan aneka pohon buah langka, nanti hasilnya bisa dinikmati oleh seluruh warga kok.

Dan, minggu lalu saya sudah membuat lubang cahaya di kamar kecil kami, agar tidak perlu menyalakan lampu di siang hari....
 

Posted at 07:23 am by Neng Jeni
Ada (6) yang komen  

Monday, March 02, 2009
Adek

Dulu, si mas pernah nyeletuk gini ..... "adek kan anak kesayangan ibu".

ups, ini hati rasanya kayak disentil deh. saya memang sering diskusi panjang sama si mas, dan biasanya diakhiri dengan saling meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.

saya sendiri menyadari bahwa diskusi memang lebih sering dilakukan bersama si mas, tanpa bermaksud mengelak, sampai kapan pun pengalaman pertama si mas adalah juga pengalaman pertama bagi saya. apalagi si mas adalah orang yang sangat amat spontan, sering kali kata yang keluar adalah hal yang terpikirkan saat itu.

adek, sedari dulu pandai membaca situasi ini. seperti sifat anak 2,3, dst pada umumnya yang follower sang kakak, adek hampir tidak pernah mengulang "kesalahan" yang pernah dilakukan si mas. ditambah sifatnya yang tertib dan teratur, boleh dibilang pengalaman saya bersama adek mulus-mulus saja.
adek cenderung mencari jalan aman.

walaupun tidak pernah diakuinya, hampir semua kegiatan yang dilakukannya adalah meniru si mas, dan dia selalu ingin "mengalahkan" si mas dalam segala hal, mulai dari pilihan bahasa asing, kegiatan ekskul, bermain musik sampai urusan tinggi badan.

kalau si mas cenderung meledak-ledak, adek selalu cermat memilih kata, waktu dan peluang. tanpa diminta adek sering menghibur kami, walaupun sekedar menemani kala saya bermanyun ria di dapur atau sekedar mengelus dan mencium akung dan yangti. sehingga hampir semua permintaannya tak kuasa kami tolak. tanya saja pada semua
yang pernah menjadi korbannya .... manipulator sejati, tapi adek bercita-cita jadi ilmuwan ....

pagi ini, dia hanya tersenyum jaim, waktu di depan kaca saya berkata, hari ini kamu baru 14, tapi kamu sudah lebih tinggi dari ibu...




Posted at 07:30 am by Neng Jeni
Ada (3) yang komen  

Friday, February 06, 2009
suwit sepentin


Setiap memasuki bulan Februari saya selalu terkenang peristiwa bertahun silam, peristiwa yang membuat beberapa pihak kalang kabut, sementara kami terkikik geli.

Pertanyaan klasik dan membosankan "ayo dong... kapan?" hanya bisa saya balas dengan melirik ke dia
sambil tersenyum, kami memang belum mapan saat itu.

sampai akhirnya suatu malam, di tengah-tengah pembicaraan konyol, dia
bertanya
    + bosen gak sih ditanyain mulu?
    - ya gitu deh
    + dijadiin aja apa ya
    - siapa takut, kapan?
    + paling cepet ya tahun depan, sekarang kan udah november
    - ya udah, besok kita bilang ke mereka ya

No romantic proposal, lebih seperti lu jual gua beli, sapa takut?

Dan ternyata, walaupun saya telah menjadi calon menantu selama lebih dari 2 tahun, tetap saja
mereka terkejut waktu kami berdua mengabarkan keputusan kami (walau, jujur, mereka tampak hepi banget, entah karena memang harapan mereka terkabul atau karena akan segera terlepas dari anaknya yang super duper ngeyelan itu). Februari dipilih karena saat itu bulan terakhir sebelum Ramadhan. Tanggal dipilih karena kami tidak punya banyak pilihan hari di mana tempat perhelatan belum dipesan di bulan itu, "sudah tanggal 6 saja, biar gampang ngingetnya, kan sekalian ulang tahun" kata mama. Kebetulan keluarga kami berdua penganut semua hari adalah baik.

Hampir semua persiapan kami tangani sendiri, kalau pun ada pihak yang paling sibuk, dialah sang juru rias, karena hanya beberapa jam menjelang akad nikah, dia
baru setuju untuk menggunakan upacara adat Jawa; juga adik-adik kelasnya yang mengurus logistik perkadoan (jaman itu pernyataan "kami tidak menerima bingkisan dan karangan bunga" adalah tabu); dan mbak saya yang ngurusi konsumsi juga, lha gimana enggak, wong acara itu juga dipake untuk "reuni" teman-teman mertua saya.... in general, seru!!!

Merenda hari setelahnya adalah perjuangan. Seperti makan rujak, kadang dapat jambu yang manis, mangga yang masam, nenas dan bangkuang yang segar, pepaya yang renyah, nanti coba-coba bumbu yang manis, atau pedas atau gurih dengan tambahan kacang. Kalaupun sesekali kami tersandung atau bingung di simpang jalan, ya itulah nikmat dari rasa rujak tadi.

Kami pribadi yang berbeda, kami masih saling berusaha untuk menularkan kebiasaan baik. Pada akhirnya, saya tidak hanya cinta padanya, I really need him very much.

Selamat hari lahir sayangku
, selamat hari jadi kita ....

the smile on your face, lets me know that you need me
there's a truth in your eyes saying you'll never leave me
the touch of your hand says you'll catch me whenever I fall
.............

*aahhh, saya nggak pernah bosan dengan lagunya mas Keating
ini*






Posted at 12:00 am by Neng Jeni
Ada (8) yang komen  

Sunday, January 18, 2009
You were beautiful...

Percakapan di dapur suatu malam...

si Mas : you're so beautiful .. *bersenandung sambil cuci piring*

Saya: thank you, mas...

M : you're welcome, bu, I am glad to do this...
     you're so beautiful.. its you... *nerusin nyanyi*

S: I know, I am beautiful...

M: ge er ih Ibu, you were beautiful, but you are the only girl in the house, of course 
     you are the preetiest between us...
  hahaha...

S: uuhh, sekali-sekali memuji ibu napa ...

M: how could I? actually, you're dominating us...

S: no no no, its just, mmmmmm......but, i've to survive among you boysSad

M: no no no... you are dominating us, you make us fell down to your knees

S: I just try to manage you all guys...

M: tuh, mesti deh, ....  ibu gak pernah mau kalah kan?.. see..... Big Smile


Posted at 07:11 am by Neng Jeni
Ada (3) yang komen  

Saturday, January 17, 2009
Jalan-jalan yuuuk ke Pantai Ciputih

Dari beberapa pantai di Jawa Barat yang pernah saya kunjungi, Pantai Ciputih ini saya masukkan dalam kategori TOPBGT sebagai daerah tujuan berlibur, is a must lah. Tolong dicatat ya, berlibur itu artinya leyeh-leyeh, aman dari gangguan pengasong, gangguan kantor, gangguan pengunjung lain yang resek dan aman dari sisi kondisi alam.

Pantai Ciputih ini, atau lebih spesifik lagi Ciputih Beach Resort, terletak di sebuah teluk kecil antara kota Sumur dan Taman Nasional Ujung Kulon. Perjalanan dari Jakarta menuju Sumur memakan waktu sekitar 4 jam. Bebas macet, kecuali sedikit rusuh ketika memasuki kota Serang. Dari Sumur menuju resort hanya berjarak kurang dari 10 km arah ke Taman Nasional, tetapi karena banyaknya kubangan raksasa di sepanjang jalannya menjadikan waktu tempuhnya mencapai 1 jam. Konon keadaaan ini sengaja dibiarkan sebagai tindakan pengamanan bagi kawasan Taman Nasional.

Di sepanjang pantai Ciputih ini banyak terdapat vila-vila pribadi dan resort. Tetapi nampaknya rencana untuk menjadikan kawasan ini sebagai "tandingan" kawasan Carita-Anyer tidak terlaksana, mungkin karena jaraknya yang relatif jauh dari Jakarta. Sepi pengunjung. Jejak pembangunan kawasan yang sembrono terlihat dari banyaknya terumbu karang mati di sepanjang pantai dan beberapa dermaga yang ditinggalkan.

Namun demikian, Ciputih Beach Resort benar-benar memenuhi kriteria tujuan berlibur keluarga kami. Resort ini sendiri memiliki lebih dari 30 rumah di sela-sela pohon Ketapang dan berbagai tumbuhan pantai lainnya. Bersih dan berpasir putih. Pertama kali kami berkunjung ke sana di tahun 2003, waktu seakan hilang. Jangankan sinyal telepon selular, bahkan tidak semua sinyal stasiun TV pun bisa mencapai daerah itu. Jarum jam dinding pun mundur maju sesukanya. Perfecto!. Terakhir kami berkunjung di tahun 2006, hampir semua sinyal telepon selular mencapai garis yang tertinggi, bahkan ada satu kamar yang disediakan dengan fasilitas internet. Tapi, siapa yang peduli dengan semua sinyal dan jarum bila di depan mata terpampang laut biru dengan ombak lembut menari.

Ombak pecah sebelum memasuki teluk, hanya deburan kecil yang mencapai pantai, dan sesekali deburan besar saat pasang. Bermain di tengah buaian ombak amat menyenangkan. Hampir tidak terdapat batu karang di sepanjang pantainya, kecuali di ujung-ujung sisi kiri dan kanannya. Bila tak ingin berbasah ria, bisa menikmati sepoian angin dan sinar matahari yang mengintip di sela daun lebar Ketapang dari kursi-kursi malas yang berserak di pantai, bukan begitu bapake? Wink




Sambil menunggu matahari terbenam, menjelajahi terumbu karang mati sampai ke bekas dermaga cukup mengasyikkan. Ups, ternyata di beberapa tempat binatang karang itu sudah mulai datang lagi, terutama di bagian-bagian yang selalu terendam air. Indah sekali, ada berbagai bentuk dan warna, walaupun masih sangat kecil. Beberapa jenis tripang dan ikan karang, seperti anakan kerapu dan ikan badut bisa dijumpai di situ.

Gelapnya malam memunculkan sejumlah rasi bintang yang sulit terlihat di kota. Bila sabar menunggu, bukan tidak mungkin berkesempatan melihat bintang jatuh. Aiihhh, cantik kali ….

Terakhir kali ke sana, hanya ada kantin pegawai resort yang beroperasi, yang hanya menyediakan minuman ringan dan makanan kecil. Tapi mereka bersedia memasakkan ikan-ikan yang kita beli dari pasar ikan Sumur.

Kami lebih suka untuk tiba di sana pada siang hari dan bila kembali sebelum jam makan siang. Rumah makan Astry di Pandeglang terlalu sayang untuk dilewatkan. Otak-otak ikan, udang dan cumi bakarnya syedap syekalee. Bila dipadu dengan pengalaman bermain ombak, hmmmm…… kami ingin selalu kembali ke sana Wink

Posted at 01:19 pm by Neng Jeni
Ada (5) yang komen  

Friday, January 16, 2009
Andaikan.......

Seorang teman baik baru tertimpa musibah, kecelakaan di jalan raya.
Sedih saya mendengarnya....
cry Siku tangan kirinya remuk sehingga harus dipasang skrup dan pen, paling tidak selama 1,5 tahun.

Saat sedang melaju pelan di daerah Depok, tuturnya, tiba-tiba helm pengendara motor di depannya lepas dan terbang ke arahnya, tak ayal motor yang dikendarainya pun menabrak helm tersebut. Teman tadi baru siuman saat berada di UGD sebuah rumah sakit, tak ingat bagaimana jatuhnya sehingga sikunya remuk. Saya pun tak hendak bertanya kejadian setelahnya, hanya teman tadi bersyukur sekali karena selamat, tidak menderita gegar otak dan tidak terluka di tempat lain.

Aaahhh... hanya karena kecerobohan tidak memakai helm dengan benar, orang lain jadi celaka
Hurmph

Tak hendak lagi saya membahas betapa kusutnya sistem perlalulintasan di sini. Hanya berharap, andaikan semua kita bisa lebih hati-hati, sopan, dan dewasa dalam berlalu lintas, mungkin kecelakaan-kecelakaan konyol seperti itu bisa dihindarkan....

Andaikan.....


Posted at 01:48 pm by Neng Jeni
Ada (1) yang komen  

Previous Page Next Page