Entry: Terima kasih, Bumi.... Monday, March 30, 2009



Matiin listrik sejam? bener nih cuma sejam? kecil.....

Buat warga Bogor, apalagi yang di pinggiran Bogor, seperti saya ini, candle light dinner adalah hal yang biasa... nggak ada romantis-romantisnya lagi. Tapi kalau mau diambil hikmahnya, itulah saat makan malam dimana saya nggak usah susah ngumpulin anak-anak buat makan sama-sama di meja makan!

Semenjak saya pindah ke perumahan sekarang, 14 tahun lalu, mati listrik selama 2-3 jam per hari itu adalah hal biasa. Itu tidak termasuk bila ada hujan besar baik di sekitar rumah maupun di kota Bogor sana .... Bila ditanyakan ke PLN pun jawabannya sederhana, karena di perumahan itu nggak punya gardu sendiri, atau karena di sekitar perumahan itu banyak yang nyantol listrik, dari pada korslet..... dan alasan itu masih dipakai sampai sekarang... gak kreatif banget ya .....
Belakangan, mati listrik lebih dari 8 jam juga sering terjadi.
 
So, buat kami, tidak ada listrik selama satu jam itu, no big deal lah..... tinggal turunin MCB aja, malam pula, aktivitas rutin pun sudah selesai sejak tadi, hanya bapak saya yang bolak balik bertanya pada cucunya, kenapa lampu-lampu di rumah tetangga nggak ada yang mati...
Smile  Maap ya beh, lupa ngasih tau ...
Dan ternyata acara mematikan listrik itu lebih dari satu jam, karena orang yang bertugas untuk menyalakan listrik kembali (baca: bapake
) ketiduran!!!

Kepedulian saya terhadap lingkungan sudah dimulai sejak masih SD, saat saya mencicipi rasa air minum yang aneh ketika berkunjung ke rumah bude di daerah Kemayoran, kata papa, airnya agak payau, karena rumahnya dekat laut. Saat itulah parno saya timbul, saya paling takut kehilangan air bersih, bahkan saya juga nggak rela kalau anak-anak saya, dan cucu-cucu saya dan seterusnya nggak bisa menikmati air bersih.

Selain itu, hidup dengan hemat listrik dan air juga sudah dimulai sejak kecil, mungkin tujuan orang tua saya adalah untuk menghemat pengeluaran. Tapi saya ingat betul, dulu, selalu ada drum di bawah kucuran talang untuk menampung air hujan, semata-mata karena tidak ada saluran buangan air dari talang tersebut dan bila tidak ditampung akan membanjiri halaman samping rumah kami. Air di situ dipakai untuk berbagai keperluan, menyiram tanaman, cuci piring, mencelupkan kepala saat pulang sekolah di tengah hari, atau adik saya yang cukup gila menaruh beberapa ekor ikan di sana, dan dia menangis saat ikan-ikannya hilang setelah hujan besar. Kini, di rumah orang tua saya sudah ada sumur resapan. Tetangga di sekitar rumah orang tua biasa meminta air ke mereka saat sumur-sumur rumahnya mengering.

Keparnoan saya jauh berkurang, saat saya tahu kemana saya bisa menyalurkannya. Saya merasa terbantu saat saya bisa berbuat sesuatu untuk mengembalikan segala kebaikan alam. Menyampaikan kabar kepada khalayak bahwa burung banyak berjasa pada lingkungan, bahwa menanam pohon berarti menyiapkan rumah untuk burung, serangga dan satwa lainnya, bahwa memelihara satwa yang dilindungi akan mendatangkan musibah lingkungan, bahwa membuang sampah sembarangan akan mendatangkan banjir, menebang pohon secara berlebihan akan menimbulkan petaka, dll. Tapi, saya belum sepenuhnya tidak merusak alam.

Menabung air sedang saya lakukan, ada 32 lubang biopori
di halaman belakang dan depan rumah, yang diisi dengan sampah organik (yang bisa dipergunakan sebagai pupuk organik nantinya). Praktis sampah rumah tangga saya kini hanya berupa sampah plastik (kertas dan botol kaca sudah ada pemulungnya, termasuk sekolah anak-anak yang menampung barang bekas untuk keperluan pembuatan bahan penunjang belajar anak). Dan lubang-lubang itu akan bertambah di lingkungan saya dan di rumah orang-orang terdekat.

Pemakaian kipas angin dan lampu dikurangi dengan membuat jendela yang besar dan banyak. Punten ya pak RT, kalau tanpa ijinmu taman di depan rumah sudah saya tanami dengan aneka pohon buah langka, nanti hasilnya bisa dinikmati oleh seluruh warga kok.

Dan, minggu lalu saya sudah membuat lubang cahaya di kamar kecil kami, agar tidak perlu menyalakan lampu di siang hari....
 

   9 comments

ditter
August 26, 2009   04:17 PM PDT
 
Wooowww... ibu bener2 udah menerapkan ecosophy dengan baik... Salut bu!!

Kepedulian lingkungan sudah dijadikan gaya hidup, bukan sekedar teori...
hanny
April 14, 2009   07:09 PM PDT
 
mati listrik sehari juga seru, bu dhe. sekali-sekali menghabiskan waktu dengan berinteraksi di luar rumah, mengobrol langsung ketimbang nginternetan atau nonton televisi, memasak di udara terbuka malam-malam pakai arang, sambil ketawa-ketiwi :D
mayssari
April 3, 2009   04:59 PM PDT
 
Saya biasa mematikan lampu di malam menjelang.
saya dan suami biasa beraktivitas di luar rumah dari pagi sampai sore hari, pada saat itupun kami memadamkan listrik di rumah. Menyala hanya saat sore sampai sekitar pukul 12 malam, setelahnya mati lagi.

mayssari
April 3, 2009   09:55 AM PDT
 
Wow! Luar biasa!!! saya baru sampai taraf misahin sampah dan hemat listrik ajah....

makasih ya, mbak untuk inspirasinya....

Fitri Mohan
April 3, 2009   08:04 AM PDT
 
wah budhe keren banget. disini saya baru sampe taraf nanem bunga, misah2in sampah, dan matiin listrik atau air kalo nggak dipake. belum dimungkinkan untuk ber-biopori ria. apalagi yang sampe bikin lubang cahaya.

keep up the good work budhe. insya allah akan bisa saya contek semuanya. amien!
dinda
March 31, 2009   06:43 PM PDT
 
buuu..
pinjem tusukan biopori itu dong buuuu... aku mau beli tapi setelah dipake nanti malah nggak punya tempat buat nyimpannya, huhuhu...
nengjeni
March 31, 2009   12:53 PM PDT
 
@ chic: lubangnya ada di bawah batu pijakan chi, jadi gak keliatan.... :) biar gak ada belatung juga, kan isinya sampah....
Chic
March 31, 2009   10:44 AM PDT
 
32 lubang biopori... wooogh!!! kereeeen... penasaran, kemaren aku ke sana ndak liyat soalnya budhe... :D
Dian Maya Kirana
March 30, 2009   10:34 PM PDT
 
bener-bener pro earth ya bu? hehe, ada biopori segala,,

salut deh,,

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments