Entry: Penangkaran ex-situ satwa primata di Pusat Studi Satwa Primata IPB Wednesday, April 18, 2012



Satwa primata merupakan salah satu kekayaan fauna yang dimiliki Indonesia. Keragaman spesies satwa tersebut, saat ini menghadapi permasalahan yang disebabkan kerusakan hutan,  fragmentasi habitat, perburuan dan illegal logging, kata Entang Iskandar, seorang ahli primata dari Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) LPPM IPB, membuka Obrolan Kamis Sore 12 April 2012 lalu.

 Di area PSSP LPPM IPB yang terletak di pusat kota namun dipenuhi rerimbunan pohon ini dilakukan berbagai studi jenis primata, mulai dari penelitian penyakit hingga pengamatan perilaku, salah satunya adalah penangkaran ex-situ beberapa spesies satwa primata yang terancam punah. Selain  untuk mendukung program konservasi (pelestarian), PSSP juga bertujuan untuk memanfaatkan satwa hasil penangkaran untuk kepentingan penelitian, sehingga penangkapan langsung dari alam bisa dihapuskan (pemanfaatan). Satwa yang ditangkarkan adalah Owa jawa (Hylobates moloch), Kukang (Nycticebus coucang) dan Tarsius (Tarsius spectrum). Selain penangkaran tersebut, dilakukan pula penangkaran Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dengan  tujuan melestarikan dan memanfaatkan hasil penangkaran tersebut  untuk penelitian biomedis.

 Sistem penangkaran yang dilakukan disesuaikan dengan spesies dan tipe kelompok yang ditangkarkan, seperti sistem penangkaran semi alami, sistem koral, sistem kelompok dan sistem pasangan. Pada setiap jenis penangkaran, dilakukan berbagai macam bentuk pengkayaan lingkungan (environmental enrichment), pengayaan habitat (habitat enrichment), dan bentuk pengelolaan lain untuk mendukung keberhasilan penangkaran.


1.    Owa Jawa (Hylobates moloch)

Owa jawa merupakan satwa endemik di Pulau Jawa, penyebarannya hanya terbatas di Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pada tahun 2011, IUCN Red list memasukkan Owa jawa ke dalam kategori endangered species, sedangkan CITES menggolongkannya ke dalam Appendix I. Pemilihan Owa jawa sebagai spesies yang ditangkarkan dirasa sebagai suatu tantangan, karena belum banyak informasi yang ada mengenai jenis ini.

Penangkaran ex-situ Owa jawa dilakukan melalui kerjasama dengan Taman Safari Indonesia. Upaya ini telah dimulai pada tahun 2003, dan didukung oleh Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat PHKA, Kementerian Kehutanan. Pada awalnya penangkaran jenis ini sangat beresiko, karena Owa jawa adalah jenis monogami, belum tentu indukan yang dipasangkan ini berhasil kawin. Penangkaran yang dilakukan dalam kandang berukuran 7,9m x 7m x 3,3m dan terdiri dari 2 kompartemen ini dimulai dengan proses pemisahan induk, lalu dipasangkan. Proses pemasangan ini berhasil, dan selama kurun waktu 8 tahun telah menghasilkan 5 anak walau hanya 4 anak yang bertahan hidup, suatu prestasi penangkaran yang sangat jarang terjadi di dunia.

Masalah biaya menyebabkan ke enam individu Owa jawa masih tinggal di kandang yang sama. Idealnya, mereka sudah dipisahkan karena, di alam, satu kelompok Owa jawa hanya terdiri atas 2-5 individu saja. Pelepasliaran keluarga Owa jawa ini ke alam juga belum dimungkinkan karena seekor induk dan beberapa anakan masih mengidap virus hepatitis. Selain bila tidak dilepasliarkan bersama induknya, anak Owa jawa tidak berpengalaman hidup di alam bebas, dan akan membahayakan hidupnya.

 

2.       Tangkasi (Tarsius Spectrum)

Tangkasi merupakan spesies primata endemik di Sulawesi, dan temasuk ke dalam kategori vulnerable (IUCN 2011), sedangkan CITES mengategorikan Tarsius ke dalam Appendix I. Satwa nokturnal ini ditempatkan secara berpasangan setelah melalui pemantauan tingkah laku untuk mengetahui ketertarikan antar individu. Pada setiap kandang dilengkapi dengan enrichment untuk beraktifitas dan tempat berlindung. Beberapa pasang tarsius yang ditangkarkan sudah berhasil bunting dan memiliki anak. Dan dari 7-8 kelahiran belum satu anak pun yang bertahan hidup. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, di antaranya memisahkan jantan pada saat betina bunting dan memodifikasi enrichment yang berada di dalam kandang. Sampai saat ini kandang yang ada dirasa masih terlalu panas dan terang. Suara kendaraan bermotor yang lalu lalang di sekitar fasililtas ditengarai juga menjadi gangguan atas kegiatan ini.

 

3.       Kukang (Nycticebus coucang)

Prinsip pengelolaan penangkaran kukang sedikit berbeda dengan Tarsius walaupun keduanya merupakan satwa nokturnal. Perbedaan tersebut terutama pada jenis pakan yang diberikan dan kelengkapan pengkayaan lingkungan. Sistem pemasangan kukang dilakukan dengan cara yang sama seperti halnya proses pemasangan Tarsius. Tiga ekor anak kukang sudah berhasil dilahirkan dari pasangan yang berbeda, dan salah satu di antaranya menjelang pradewasa.

 

4.     4. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)

Penangkaran semi alami monyet ekor panjang di Pulau Tinjil dilaksanakan atas kerjasama Perum Perhutani dengan IPB, dengan ijin penangkaran dari Ditjen PHKA. Introduksi pertama induk monyet ekor panjang di pulau seluas 600 ha ini dilakukan pada tahun 1988, dan sampai saat ini total 603 ekor induk telah diintroduksi ke P. Tinjil, yang berasal dari Lampung, Palembang dan Jawa Barat dan semuanya telah melalui proses karantina sehingga bebas dari penyakit.


Untuk mempermudah pemantauan populasi dibuat 13 transek melintang dan memanjang, serta dibuat 13 kandang yang didistribusikan sesuai transek tersebut. Pemberian pakan tambahan dilakukan sekali sehari walaupun pakan alami tumbuh yang tumbuh di sana mencukupi. Pemberian pakan tambahan di dalam kandang juga bertujuan untuk memudahkan proses “pemanenan”. Berdasarkan hasil survei populasi terakhir, terdapat sekitar 1700-1800 ekor monyet ekor panjang yang tersebar secara berkelompok di seluruh bagian pulau. Pemanenan anakan hasil penangkaran dilakukan setiap tahun dengan memperhatikan aspek kelestarian yang berkelanjutan. Kualitas genetisnya pun terjaga, karena secara berkala dan acak diperiksa sampel darahnya, sejauh ini tidak ada indikasi terjadi inbreeding.


Dengan keberhasilan penangkaran ini, P. Tinjil juga dilengkapi fasilitas untuk pelatihan mengenai “Primate Conservation Biology” untuk 18 orang yang diadakan rutin setiap tahunnya. Pelatihan ini juga diikuti oleh peserta asing. Outreach Program juga dilakukan untuk masyarakat yang tinggal berdekatan dengan fasilitas ini.


Di akhir pemaparan, ahli primata bersahaja ini menginformasikan bahwa PSSP LPPM IPB terbuka bila ada mahasiswa yang berminat melakukan penelitian di P.Tinjil, tentunya bila proposal mereka disetujui. [jeni shannaz]

 

Obrolan Kamis Sore, 12 April 2012

Nara sumber: DR. Ir. Entang Iskandar, MSi (Pusat Studi Satwa Primata LPPM IPB)

                    eniskandar@gmail.com

   2 comments

obay
August 13, 2012   06:34 PM PDT
 
kaka, saya baru beli kukang, saya gak tau kalo kukang dilindungin. saya baru beli 250RB. kalo saya berikan ke IAR, kembali gak yaa uang saya, maklum pelajar jadi gak mau rugi hehehe :)

di tunggu kabarnya yaa kaka di 081314553255
mayssari
May 22, 2012   12:05 PM PDT
 
wah... wah... lengkap sekali infonya.. tambah pinter saya... :) Pa kabar???

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments